Senin, 13 Mei 2013

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING MURID KELAS IV SDN 62 MAWANG KABUPATEN BANTAENG


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Undang-Undang  No.  20  Tahun  2003  tentang  Sistem  Pendidikan  Nasional menyebutkan, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Trianto, 2009:1)
Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat perkembangan. Oleh karena itu, perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus-menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan.
Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompotensi peserta peserta didik. Konsep pendidikan tersebut terasa semakin penting ketika seseorang harus memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena yang bersangkutan harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi problema yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari saat ini maupun yang akan datang.
Pemikiran ini mengandung konsekuensi bahwa penyempurnaan atau perbaikan pendidikan formal (sekolah/madrasah) untuk mengantisipasi kebutuhan dan tantangan masa depan perlu terus-menerus dilakukan, diselaraskan dengan perkembangan kebutuhan dunia usaha/dunia industri, perkembangan dunia kerja, serta perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Hasil observasi empiris di lapangan mengindikasikan, bahwa sebagian besar lulusan sekolah kurang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan maupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sulit untuk bisa dilatih kembali, dan kurang bisa mengembangkan diri. Temuan tersebut tampaknya mengindikasi bahwa pembelajaran di sekolah belum banyak menyentuh atau mengembangkan kemampuan adaptasi peserta didik. Studi itu juga memperoleh gambaran bahwa sebagian lulusan sekolah, khususnya SMK (yang memang dicetak untuk menjadi tenaga siap pakai) tidak bisa diserap dilapangan kerja, karena kompetensi yang mereka miliki belum sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Kondisi itulah, antara lain yang menjadi alasan, mengapa kurikulum sekolah edisi 1999 (penyempurnaan kurikulum 1994) ditinjau kembali kesesuaian dengan kompetensi yang dituntut oleh pasar kerja, Standar Kompetensi Nasional (SKN), serta kebutuhan pembekalan kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. (Trianto, 2009:2)
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap berbagai dimensi kehidupan manusia, baik dari segi ekonomi, sosial budaya maupun pendidikan. Pendidikan dimaknai sebagai proses mengubah tingkah laku murid agar menjadi manusia dewasa yang mampu hidup mandiri dan sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan alam sekitar di mana individu itu berada.
Salah satu masalah yang sering dijumpai dalam proses belajar mengajar di sekolah adalah guru menginformasikan fakta dan konsep melalui metode ceramah dan menjadikan murid sekedar pendengar pasif dalam mengikuti proses belajar mengajar. Hal tersebut menyebabkan kegiatan pembelajaran tidak  memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti pada hari kamis tanggal 08 November 2012 di SDN 15 Samata Kabupaten Bantaeng, ternyata guru pada umumnya masih menggunakan metode ceramah, di mana pembelajaran hanya terpusat pada guru sebagai sumber belajar sehingga nilai komunikasi yang terjadi hanya satu arah, dan berdampak pada rendahnya hasil belajar murid khususnya pada bidang studi matematika sehingga nilai rata-rata murid masih berada dalam kategori sedang yaitu 60 dan ketuntasan belajar murid tidak tercapai sesuai dengan tujuan yang ingin diharapkan .70
Efektifitas dalam pencapaian tujuan pembelajaran merupakan hal yang sangat diharapkan dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, penggunaan metode dan teknik dalam proses belajar mengajar sangat  menentukan berhasil tidaknya pencapaian tujuan pembelajaran.
Menginformasikan fakta dan konsep dalam setiap proses belajar mengajar melalui metode ceramah akan menjadikan murid sekedar sebagai pendengar pasif dalam kelas dan guru dominan  menjadi sumber informasi. Dengan metode ini murid akan menjadi kurang berminat dan merasa bosan bahkan dapat mengurangi motivasi belajar. Selain itu, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa dalam proses belajar mengajar yang kurang memberikan kesempatan kepada murid untuk ikut aktif memecahkan masalah sendiri akan memberikan hasil yang kurang memuaskan. Oleh karena itu, guru dituntut untuk menggunakan metode yang dapat melatih murid dalam berhadapan dengan beberapa masalah dan memberikan kesempatan untuk mencari dan menemukan sendiri pemecahannya sehingga murid menghayati dan memahami materi yang diberikan.
Perkembangan model pembelajaran dari waktu ke waktu terus mengalami perubahan. Model-model pembelajaran tradisional kini mulai ditinggalkan berganti dengan model yang lebih moderen. Salah satu model sebaiknya digunakan untuk mengaktifkan murid dalam proses belajar adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif.
Pada model ini murid diberi kesempatan untuk berkomunikasi dan berinteraksi sosial dengan temannya untuk mencapai tujuan pembelajaran, sementara guru bertindak sebagai motifator  dan  fasilitator aktifitas murid.  Artinya, dalam pembelajaran ini kegiatan aktif  dengan pengetahuan dibangun sendiri oleh murid dan mereka bertanggung jawab  atas hasil pembelajarannya. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar murid dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para murid dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan pembelajaran kooperatif adalah untuk membangkitkan interaksi yang efektif di antara anggota kelompok melalui diskusi. Dengan interaksi yang efektif dimungkinkan semua anggota kelompok dapat menguasai materi pada tingkat yang relatif sejajar.
Nuansa kompetitif (persaingan) dalam kelas akan sangat baik bila diterapkan secara sehat. Pembelajaran kooperatif ini adalah sebagai alternatif pilihan dalam mengisi kelemahan kompetisi, yakni hanya sebagian murid saja yang akan bertambah pintar sementara yang lainnya semakin tenggelam dalam ketidaktahuannya. Tidak sedikit murid yang kurang pengetahuannya merasa minder bila kekurangannya dibeberkan. Kadang-kadang motivasi persaingan akan menjadi kurang sehat apabila para murid saling menginginkan agar murid lainnya tidak mampu, katakanlah dalam menjawab soal yang diberikan guru. Sikap mental inilah yang dirasa perlu untuk mengalami improvement (perbaikan).
Model pembelajaran kooperatif efektif diterapkan dalam belajar matematika karena murid sering dihadapkan pada latihan soal-soal  atau pemecahan masalah. Oleh karena itu diskusi kelompok dengan teman yang sebaya untuk mendapatkan kejelasan terhadap apa yang telah dijelaskan oleh guru akan membantu memupuk keberanian dan rasa percaya diri murid, sebab akan muncul kompetensi di antara murid dalam menjelaskan suatu masalah.
Dalam pembelajaran kooperatif ada beberapa variasi tipe yang dapat digunakan dan salah satu tipe yang dianggap dapat meningkatkan hasil belajar matematika murid adalah Group Investigation. Pembelajaran kooperatif dengan tipe Group Investigation  memungkinkan guru dapat memberikan perhatian kepada murid serta akan terjalin hubungan yang lebih akrab antara guru dengan murid. Ada kalanya murid lebih mudah belajar karena mengajari temannya.
Salah satu unsur penting terwujudnya suasana pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation  adalah terciptanya iklim belajar yang kondusif, yakni murid terbebas dari rasa was-was, cemas dan  ragu-ragu dalam mengekspresikan ide-ide yang terdapat dalam pikirannya. Untuk menciptakan suasana belajar Group Investigation, peran guru sangat diutamakan yakni berupaya semaksimal mungkin agar jarak antara guru dan murid diminimalkan.
Pengajaran matematika melalui model pembelajaran Group Investigation diharapkan dapat memenuhi kebutuhan tersebut dan memungkinkan murid belajar aktif.
Dengan dasar pemikiran tersebut, maka melalui penelitian tindakan kelas ini penulis mencoba mengatasi masalah rendahnya hasil belajar matematika murid dengan menerapkan model pembelajaran tipe Group Investigation  untuk meningkatkan hasil belajar matematika murid kelas V SDN 15 Samata Kabupaten Bantaeng.
B.  Perumusan Masalah
1.    Identifikasi Masalah
a.    Guru tidak menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan baik sesuai kurikulum yang ada, sehingga guru kadang terlepas dari konteks materi yang diajarkan.
b.      Guru mengajar dengan menggunakan metode ceramah sehingga murid tidak termotivasi dalam mengikuti pelajaran dan terjadi komunikasi satu arah karna guru menoton dalam pembelajaran.
c.       Guru kurang tepat dalam penggunaan media dalam proses pembelajaran sehingga dapat menghambat murid dalam memahami materi pelajaran.
d.      Murid kurang antusias dalam mengikuti pelajaran karna tidak terjadi umpan balik dalam pembelajaran matematika yang di ajarkan oleh guru.
e.       Kurangnya motivasi murid untuk belajar sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar matematika.
f.       Rendahnya hasil belajar murid dalam pembelajaran matematika.
Hal-hal di atas berakibat pada rendahnya hasil belajar matematika murid khususnya di SDN 15 Samata Kabupaten Bantaeng.
2.    Alternatif Pemecahan Masalah
Adapun alternatif pemecahan masalah yang direncanakan peneliti untuk dapat mengatasi masalah yang ditemukan di SDN 15 Samata Kabupaten Bantaeng adalah sebagai berikut:
a.    Peneliti menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan baik sesuai dengan kurikulum.
b.    Peneliti mengujicobakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation yang dianggap dapat mengaktifkan murid dan antusias tinggi dalam menerima pembelajaran.
c.    Peneliti menyediakan media pembelajaran sesuai dengan materi ajar.
d.   Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation antusias murid belajar matematika dapat meningkat.
e.    Peneliti memotivasi murid dalam pembelajaran sehingga rasa jenuh, bosan, dan kurang aktif dalam pembelajaran meningkat dan berdampak pada tingginya hasil belajar matematika.
Hal-hal tersebut dalam alternatif pemecahan masalah di atas jika dilakukan dengan sebaik mungkin maka hasil dan sikap murid dalam belajar matematika dapat meningkat.
3.    Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu : Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif  tipe Group Investigation  dapat meningkatkan hasil belajar matematika di kelas V SDN 15 Samata Kabupaten Bantaeng?”.
C.  Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation  dalam meningkatkan hasil belajar matematika di Kelas V SDN 15 Samata Kabupaten Bantaeng.
D.  Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini terdiri atas manfaat teoretis dan praktis.
1.    Manfaat Teoretis
a.    Sebagai bahan informasi mengenai penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation  bagi murid Kelas V SDN 15 Samata Kabupaten Bantaeng.
b.    Menambah wawasan, pengetahuan dan teori baru tentang model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation  yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika murid Kelas V SDN 15 Samata Kabupaten Bantaeng sehingga dapat dijadikan landasan  teoritis bagi penulis berikutnya.
c.    Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai landasan bagi guru mata pelajaran dalam mengambil langkah-langkah perbaikan dan peningkatan mutu proses belajar mengajar pada materi kelas V SDN 15 Samata Kabupaten Bantaeng.
2.    Manfaat Praktis
a.    Memberikan masukan bagi guru mata pelajaran matematika di sekolah dasar yang sering menemukan masalah dalam pembelajaran agar dapat menyelesaikannya dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation.
b.    Sebagai bahan referensi dan perbandingan bagi peneliti selanjutnya yang akan mengkaji masalah yang relevan dengan penelitian ini.









BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A.  Kajian Pustaka
1.    Hakekat Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
a.    Landasan Pemikiran
Sekitar tahun 1960–an belajar kompetitif dan idividualistis telah mendominasi pendidikan di Amerika serikat. Murid biasanya datang ke sekolah dengan harapan untuk berkompetisi dan tekanan dari orang tua untuk menjadi yang terbaik. Dalam belajar kompetitif dan individualitis, guru menempatkan murid pada tempat duduk yang terpisah dari murid yang lain. Kata-kata “dilarang mencontoh”, “geser tempat dudukmu”, “saya ingin agar kamu bekerja sendiri”, dan “jangan perhatikan orang lain, perhatikan dirimu sendiri” sering digunakan dalam belajar kompetitif dan individualitis Johnson & Johnson (Trianto, 2009:55). Proses belajar seperti itu masih terjadi dalam pendidikan di Indonesia sekarang ini.
Jika disusun dengan baik, belajar kompetitif dan individualitis akan efektif dan merupakan cara memotivasi murid untuk melakukan yang terbaik. Meskipun demikian, dapat memiliki kelemahan pada belajar kompetitif dan individualitis, yaitu (a) kompetisi murid kadang tidak sehat. Sebagai contoh jika seseorang murid menjawab pertanyaan guru, murid yang lain berharap agar jawaban yang diberikan salah, (b) murid berkemampuan rendah akan kurang termotivasi, (c) murid berkemampuan rendah akan sulit untuk sukses dan semakin tertinggal, dan (d) dapat membuat frustrasi murid lainnya (Slavin, dalam Trianto, 2009:55). Untuk menghindari hal-hal tersebut dan agar murid dapat membantu murid yang lain untuk mencapai sukses, maka jalan keluarnya adalah dengan belajar kooperatif.
Belajar kooperatif  bukanlah sesuatu yang baru. Sebagai guru dan mungkin murid kita pernah menggunakannya atau mengalaminya sebagai contoh saat bekerja dalam laboratorium. Dalam belajar kooperatif, murid dibentuk dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 orang untuk bekerja sama dalam menguasai materi yang diberikan guru (Slavin,1995; Eggen & Kauchak). Artzt & Newman, 1990:448 (Trianto, 2009:56) menyatakan bahwa dalam belajar kooperatif murid belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan kelompoknya.
Pembelajaran kooperatif  bernaung dalam teori konstruktivis. Pembelajaran ini muncul dari konsep bahwa murid akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Murid secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks, jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif.
Di dalam kelas kooperatif murid belajar bersama di dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang murid yang sederajat tetapi heterogen, kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lain saling membantu. Tujuan di bentuknya kelompok tersebut adalah untuk memberikan kesempatan kepada semua murid untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berfikir dan kegiatan belajar. Selama bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan oleh guru, dan saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar.
Selama belajar secara kooperatif murid tetap tinggal dalam kelompoknya selama beberapa kali pertemuan. Mereka diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar aktif, memberikan penjelasan kepada teman sekelompok dengan baik, berdiskusi, dan sebagainya. Agar terlaksana dengan baik, murid diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan guru dan saling membantu diantara teman sekelompok untuk mencapai ketuntasan materi. Belajar belum selesai jika salah satu anggota kelompok ada yang belum menguasai materi pelajaran.
Sebagaimana model-model pembelajaran lain, model pembelajaran kooperatif memiliki tujuan-tujuan, langkah-langkah, dan lingkungan belajar dan sistem pengelolaan yang khas.
b.   Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Di awal telah disebutkan, bahwa ide utama dari belajar kooperatif adalah murid bekerja sama untuk belajar dan bertanggung jawab pada kemajuan belajar temannya. Sebagai tambahan, belajar kooperatif menekankan pada tujuan dan kesuksesan kelompok, yang hanya dapat dicapai jika semua anggota kelompok mencapai tujuan atau penguasaan materi Slavin (Trianto, 2009:55). Johnson & Johnson (Trianto, 2009:57) menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar murid untuk meningkatkan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Karena murid bekerja dalam suatu team, maka dengan sendirinya dapat memperbaiki hubungan diantara para murid dari berbagai latar belakang etnis dan kemampuan, mengembangkan keterampilan-keterampilan proses kelompok dan pemecahan masalah.
Zamroni (Trianto, 2009:57) mengemukakan bahwa manfaat penerapan belajar kooperatif adalah dapat mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam wujud input pada level individual. Di samping itu, belajar kooperatif dapat mengembangkan solidaritas sosial di kalangan murid. Dengan belajar kooperatif, diharapkan kelak akan muncul generasi baru yang memiliki prestasi akademik yang cemerlang yang memiliki prestasi akademik yang cemerlang dan memiliki solidaritas sosial yang kuat.
Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan murid bekerja secara berkalaborasi untuk mencapai tujuan bersama Eggen and Kauchak  (Trianto, 2009:58). Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi murid, memfasilitasi murid dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada murid untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama murid yang berbeda latar belakangnya. Jadi dalam pembelajaran kooperatif murid berperan ganda yaitu sebagai murid ataupun sebagai guru. Dengan bekerja secara kolaboratif untuk mencapai sebuah tujuan bersama, maka murid akan mengembangkan keterampilan berhubungan dengan sesama manusia yang akan sangat bermanfaat bagi kehidupan di luar sekolah.
Struktur tujuan kooperatif  terjadi jika murid dapat mencapai tujuan mereka hanya jika murid lain dengan siapa mereka bekerja sama mencapai tujuan tersebut. Tujuan-tujuan pembelajaran ini mencakup tiga jenis tujuan penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Ibrahim, dkk. Trianto, 2009:59).
Para ahli telah menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja murid dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu murid memahami konsep-konsep yang sulit, dan membantu murid menumbuhkan kemampuan berfikir kritis. Pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada murid kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
Pembelajaran kooperatif mempunyai efek yang berarti terhadap penerimaan yang luas terhadap keragaman ras, budaya dan agama, strata sosial, kemampuan, dan ketidakmampuan. Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada murid yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.
Keterampilan sosial atau kooperatif berkembang secara signifikan dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif sangat tepat digunakan untuk melatihkan keterampilan-keterampilan kerja sama dan kolaborasi, dan juga keterampilan-keterampilan tanya jawab.
c.    Unsur Penting dan Prinsip Utama Pembelajaran Kooperatif
Menurut Sutton (Trianto, 2009:60) terdapat lima unsur penting dalam belajar kooperatif, yaitu:
1.    Pertama, Saling ketergantungan yang bersifat positif antara murid. Dalam belajar kooperatif murid merasa bahwa mereka sedang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain. Seorang murid tidak akan sukses kecuali semua anggota kelompoknya juga sukses. Murid akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok yang juga mempunyai andil terhadap suksesnya kelompok.
2.    Kedua, Interaksi antara murid yang semakin meningkat. Belajar kooperatif akan meningkatkan interaksi antara murid. Hal ini, terjadi dalam hal seorang murid akan membantu murid lain untuk sukses sebagai anggota kelompok. Saling meberikan bantuan ini akan berlangsung secara alamiah karena kegagalan seseorang dalam kelompok akan mempengaruhi suksesnya kelompok. Untuk mengatasi masalah ini, murid yang membutuhkan bantuan akan mendapatkan dari teman sekelompokya. Interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif adalah dalam hal tukar-menukar ide mengenai masalah yang sedang dipelajari bersama.
3.    Ketiga, tanggung jawab individual. Tanggung jawab individual dalam belajar kelompok dapat berupa tanggung jawab murid dalam hal: (a) membantu murid yang membutuhkan bantuan dan (b) murid tidak dapat hanya sekedar “membonceng” pada hasil kerja teman jawab murid dengan teman sekelompoknya.
4.    Keempat, keterampilan interpersonal dan kelompok kecil. Dalam belajar kooperatif, selain dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan seorang murid dituntut untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan murid lain dalam kelompoknya. Bagaimana murid bersikap sebagai anggota kelompok dan menyampaikan ide dalam kelompok akan menuntut keterampilan khusus.
5.    Kelima, proses kelompok. Belajar kooperatif tidak akan berlangsung tanpa proses kelompok. Proses kelompok telah terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.
Sedangkan menurut Lie (Rusman, 2011:212) ada lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif (cooperative learning),  yaitu sebagai berikut:
1.    Prinsip ketergantungan positif (positive interdevendence), yaitu dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam penyelasaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Keberhasilan kerja kelompok ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota kelompok. Oleh karena itu, semua anggota dalam kelompok akan merasakan saling ketergantungan.
2.    Tanggung jawab perseorangan (individual accountability), yaitu keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing anggota kelompoknya.
3.    Interaksi tatap muka (face to face promation interaction), yaitu memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain.
4.    Partisipasi dan komunikasi (participation communication), yaitu melatih murid untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran.
5.    Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.
Selain lima unsur penting yang terdapat dalam model pembelajaran kooperatif, model pembelajarn ini juga mengandung prinsip-prinsip yang membedakan dengan model pembelajaran lainnya. Konsep utama dari balajar kooperatif menurut Slavin (Trianto, 2009:61).
1.    Penghargaan kelompok, yang akan diberikan jika kelompok mencapai kriteria yang ditentukan.
2.    Tanggung jawab individual, bermakna bahwa suksesnya kelompok tergantung pada belajar individual semua anggota kelompok. Tanggung jawab ini berfokus dalam usaha untuk membantu yang lain dan memastikan setiap anggota kelompok telah siap menghadapi evaluasi tanpa bantuan orang lain.
3.    Kesempatan yang sama untuk sukses, bermakna bahwa murid telah membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar mereka sendiri. Hal ini memastikan bahwa murid berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah sama-sama tertantang untuk melakukan yang terbaik dan bahwa konstribusi semua anggota kelompok sangat bernilai.
d.   Implikasi Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Ibrahim, dkk. (Trianto, 2009:62) bahwa belajar kooperatif dapat mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik antar murid, dan dapat mengembangkan kemampuan akademis murid. Murid belajar lebih banyak dari teman mereka dalam belajar kooperatif daripada dari guru. Ratumanan menyatakan bahwa interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif dapat mengacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual murid. Menurut Kardi & Nur belajar kooperatif sangat efektif untuk memperbaiki hubungan antar suku dan etnis dalam kelas multibudaya dan memperbaiki hubungan antara murid normal dan murid menyandang cacat (Trianto, 2009:62).
Davidson (Trianto, 2009:55) memberikan sejumlah implikasi positif dalam pembelajaran dengan menggunakan strategi belajar kooperatif, yaitu sebagai berikut.
1.    Kelompok kecil memberikan dukungan sosial untuk belajar. Kelompok kecil membentuk suatu forum dimana murid menanyakan pertanyaan, mendiskusikan pendapat, belajar dari pendapat orang lain, memberikan kritik yang membangun dan menyimpulkan pertemuan mereka dalam bentuk tulisan.
2.    Kelompok kecil menawarkan kesempatan untuk sukses bagi semua murid. Interaksi dalam kelompok dirancang untuk semua anggota mempelajari konsep dan strategi pemecahan masalah.
3.    Suatu masalah idealnya cocok untuk didiskusikan secara kelompok, sebab memiliki solusi yang dapat didemonstrasikan secara objektif. Seorang murid dapat mempengaruhi murid lain dengan argumentasi yang logis.
4.    Murid dalam kelompok dapat membantu murid lain untuk menguasai masalah-masalah dasar dan prosedur perhitungan yang perlu dalam konteks permainan, teka teki, atau pembahasan masalah-masalah yang bermanfaat.
5.    Ruang lingkup materi dipenuhi oleh ide-ide menarik dan menantang yang bermanfaat bila didiskusikan.
Belajar kooperatif dapat berbeda dalam banyak cara, tetapi dapat dikategorikan sesuai dengan sifat berikut, (1) tujuan kelompok; (2) tanggung jawab individual; (3) kesempatan yang sama untuk sukses; (4) kompetisi kelompok; (5) spesialisasi tugas; dan (6) adaptasi untuk kebutuhan individu Slavin (Trianto, 2009:63)
2.    Model Pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation
a.    Pengertian kooperatif tipe Group Investigation            
 Secara umum perencanaan pengorganisasian kelas dengan menggunakan teknik kooperatif Group Investigation adalah kelompok di bentuk oleh murid itu sendiri dengan beranggotakan 2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih subtopik dari keseluruhan unit materi (pokok bahasan) yang akan diajarkan, dan kemudian membuat atau menghasilkan laporan kelompok. Selanjutnya, setiap kelompok mempersentasikan atau memamerkan laporannya kepada seluruh kelas, untuk berbagi dan saling tukar informasi temuan mereka. Menurut Slavin (Tukiran, dkk. 2012:74) strategi kooperatif Group Investigation sebenarnya dilandasi oleh filosofi belajar John Dewey. Teknik kooperatif ini telah secara luas digunakan dalam penelitian dan memperlihatkan kesuksesannya terutama untuk program-program pembelajaran dengan tugas-tugas spesifik.
Sejalan dengan yang diungkapkan dengan (Trianto, 2009:78) Group Investigation merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan paling sulit untuk diterapkan. Model ini dikembangkan pertama kali oleh Thelan. Dalam perkembangannya model ini diperluas dan dipertajam oleh Sharan dari Universitas Tel Aviv. Berbeda dengan STAD dan Jigsaw, murid terlibat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari dan bagaimana jalannya penyelidikan mereka. Pendekatan ini memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit daripada pendekatan yang lebih berpusat pada guru. Pendekatan ini juga memerlukan mengajar murid keterampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik. Pengembangan belajar kooperatif  Group Investigation didasarkan atas suatu premis bahwa proses belajar di sekolah menyangkut kawasan dalam domain sosial dan intelektual, dan proses yang terjadi merupakan penggabungan nilai-nilai domain tersebut. Oleh karena itu, Group Investigation tidak dapat diimplementasikan kedalam lingkungan pendidikan yang tidak bisa mendukung terjadinya dialog interpersonal (atau tidak mengacu kepada dimensi sosial-efektif pembelajaran). Aspek sosial-efektif kelompok, pertukaran intelektualnya, dan materi yang bermakna, merupakan sumber primer yang cukup penting dalam memberikan dukungan terhadap usaha-usaha belajar murid. Interaksi dan komunikasi yang bersifat kooperatif di antara murid dalam suatu kelas dapat dicapai dengan baik, jika pembelajaran dilakukan lewat kelompok-kelompok belajar kecil.
Belajar kooperatif dengan teknik Group Investigation sangat cocok untuk bidang kajian yang memerlukan kegiatan studi proyek terintegrasi Slavin (Rusman, 2011:221) yang mengarah pada kegiatan perolehan, analisis, dan sintesis informasi dalam upaya untuk memecahkan suatu masalah. Oleh karenanya, kesuksesan implementasi teknik kooperatif Group Investigation sangat tergantung dari pelatihan awal dalam penguasaan keterampilan komunikasi dan sosial. Tugas-tugas akademik harus diarahkan kepada pemberian kesempatan bagi anggota kelompok untuk memberikan berbagai macam kontribusinya, bukan hanya sekedar didesain untuk mendapat jawaban dari suatu pernyataan yang bersifat faktual (apa, siapa, di mana, atau sejenisnya). Menurut Slavin (1995a), strategi belajar kooperatif Group Investigation sangatlah ideal diterapkan dalam pembelajaran biologi (IPA). Dengan topik materi IPA yang cukup luas dan desain tugas-tugas atau sub-sub topik yang mengarah pada kegiatan metode ilmiah, diharapkan murid dalam kelompoknya dapat saling memberi konstribusi berdasarkan pengalaman sehari-harinya. Selanjutnya, dalam tahapan pelaksanaan investigasi para murid mencari informasi dari berbagai sumber, baik di dalam maupun di luar kelas/sekolah. Para murid kemudian melakukan evaluasi dan sintesis terhadap informasi yang telah didapat dalam upaya untuk membuat laporan ilmiah sebagai hasil kelompok.

b.        Langka-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation
Rusman, (2011:223) mengungkapkan Langkah-langkah pembelajaran Model pembelajaran kooperatif tipe group investigation adalah:
1.    Membagi murid ke dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 murid;
2.    Memberikan pertanyaan terbuka yang bersifat analitis;
3.    Mengajak setiap murid untuk berpartisipasi dalam menjawab pertanyaan kelompoknya secara bergiliran searah jarum jam dalam kurung waktu yang disepakati.
Sharan, dkk. (Trianto, 2009:80) membagi langkah-langkah pelaksanaan model investigasi kelompok meliputi 6 (enam) fase.
1.    Memilih topik
Murid memilih subtopik khusus di dalam suatu daerah masalah umum yang biasanya ditetapkan oleh guru. Selanjutnya murid diorganisasikan menjadi dua sampai enam anggota tiap kelompok menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi tugas. Komposisi kelompok hendaknya heterogen secara akademis maupun etnis.
2.    Perencanaan kooperatif
Murid dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan khusus yang konsisten dengan subtopik yang telah dipilih pada tahap pertama.
3.    Implementasi
Murid menerapkan rencana yang telah mereka kembangkan di dalam tahap kedua. Kegiatan pembelajaran hendaknya melibatkan ragam aktifitas dan keterampilan yang luas dan hendaknya mengarahkan murid kepada jenis-jenis sumber belajar yang berbeda baik di dalam atau di luar sekolah. Guru secara ketat mengikuti kemajuan tiap kelompok dan menawarkan bantuan bila diperlukan.
4.    Analisis dan sintesis
Murid menganalisis dan menyintesis informasi yang diperoleh pada tahap ketiga dan merencanakan bagaimana informasi tersebut diringkas dan disajikan dengan cara yang menarik sebagai bahan untuk dipresentasikan kepada seluruh kelas.
5.    Presentasi hasil final
Beberapa atau semua kelompok menyajikan hasil penyelidikannya dengan cara yang menarik kepada seluruh kelas, dengan tujuan agar murid yang lain saling terlibat satu sama lain dalam pekerjaan mereka dan memperoleh perspektif  luas pada topik itu. Presentasikan dikoordinasi oleh guru.
6.    Evaluasi
Dalam hal kelompok-kelompok menangani aspek yang berbeda dari topik yang sama, murid dan guru mengevaluasi tiap kontribusi kelompok terhadap kerja keras sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi yang dilakukan dapat berupa penilaian individual atau kelompok.

c.    Implementasi model pembelajaran Group Investigation
Munurut Rusman, (2011:221) mengungkapkan bahwa Implementasi strategi belajar kooperatif  Group Investigation dalam pembelajaran, secara umum di bagi menjadi enam langkah, yaitu: (1) mengidentifikasi topik dan mengorganisasikan murid kedalam kelompok (para murid menelaah sumber-sumber informasi, memilih topik, dan mengategorisasi saran-saran; para murid bergabung dalam kelompok belajar dengan pilihan topik yang sama; komposisi kelompok didasarkan atas ketertarikan topik yang sama dan heterogen; guru membantu atau memfasilitasi dalam memperoleh informasi); (2) merencanakan tugas-tugas belajar (direncanakan secara bersama-sama oleh para murid dalam kelompoknya masing-masing, yang meliputi: apa yang kita selidiki; bagaimana kita melakukannya; siapa sebagai apa-pembagian kerja; untuk tujuan apa topik ini diinvestigasi); (3) melaksanakan investigasi (murid mencari informasi, menganalisis data, dan membuat kesimpulan; setiap anggota kelompok harus berkontribusi kepada usaha kelompok; para murid bertukar pikiran, mendiskusikan, mengklarifikasi, dan mensintesis ide-ide); (4) menyiapkan laporan akhir (anggota kelompok menentukan pesan-pesan esensial proyeknya; merencanakan apa yang akan di laporkannya dan bagaimana membuat persentasinya; membentuk panitia acara untuk mengkordinasikan rencana presentasi); (5) mempersentasikan laporan akhir (presentasi di buat untuk keseluruhan kelas dalam berbagai macam bentuk; bagian-bagian presentasi harus secara aktif dapat melibatkan pendengar (kelompok lainnya); pendengar mengevaluasi kejelasan presentasi menurut kriteria yang telah ditentukan keseluruhan kelas); (6) evaluasi (para murid berbagi mengenai balikan terhadap topik yang dikerjakan, kerja yang telah dilakukan, dan pengalaman-pengalaman efektif; guru dan murid berkalaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran; asesmen diarahkan untuk mengevaluasi pemahaman konsep dan keterampilan berfikir kritis).
Di dalam implementasinya pembelajaran kooperatif tipe group investigation, setiap kelompok presentasi atas hasil investigasi mereka di depan kelas, tugas kelompok lain, ketika satu kelompok presentasi di depan kelas adalah melakukan evaluasi sajian kelompok.
Mafune (Rusman, 2011:222) model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dapat dipakai guru untuk mengembangkan kreativitas murid, baik secara perorangan maupun kelompok. Model pembelajaran kooperatif dirancang untuk membantu terjadinya pembagian tanggung jawab ketika murid mengikuti pembelajaran dan berorientasi menuju pembentukan manusia sosial. Model pembelajaran kooperatif dipandang sebagai proses pembelajaran yang aktif, sebab murid akan lebih banyak belajar melalui proses pembentukan (contructing) dan penciptaan, kerja dalam kelompok dan berbagi dalam pengetahuan serta tanggung jawab individu tetap merupakan kunci keberhasilan pembelajaran.
Asumsi yang digunakan sebagai acuan dalam pengembangan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation, yaitu (1) untuk meningkatkan kemampuan kreativitas murid dapat ditempuh melalui pengembangan proses kreatif menuju suatu kesadaran dan pengembangan alat bantu yang secara eksplisit mendukung kreatifitas, (2) komponen emosional lebih penting daripada intelektual, yang tak rasional lebih penting daripada rasional dan (3) untuk meningkatkan peluang keberhasilan dalam memecahkan suatu masalah harus lebih dahulu memahami komponen emosional dan irrasional.
Sedangkan munurut Trianto, (2009:79) implementasi tipe investigasi kelompok guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5-6 murid yang heterogen. Kelompok di sini dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang sama dalam topik tertentu. Selanjutnya murid memilih topik untuk di selidiki, dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih. Selanjutnya ia menyiapkan dan mempersentasikan  laporannya kepada seluruh kelas.
3.    Hasil Belajar
Menurut Gagne (Sri Anita W, dkk. 2007:1.3) bahwa belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Dari pengertian diatas belajar tersebut terdapat tiga atribut pokok (ciri utama) belajar, yaitu proses, perubahan perilaku, dan pengalaman.
Untuk dapat melakukan evaluasi hasil belajar diadakan pengukuran terhadap hasil belajar. Pengukuran adalah kegiatan membandingkan sesuatu dengan alat ukurnya Arikunto (Purwanto, 2011:34). Dalam pendidikan, pengukuran hasil belajar dilakukan dengan mengadakan testing untuk membandingkan kemampuan murid yang diukur dengan tes sebagai alat ukurnya.
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku murid akibat belajar. Perubahan itu diupayakan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan. Perubahan prilaku individu akibat proses belajar tidaklah tunggal. Setiap proses belajar memengaruhi belajar perubahan perilaku pada domain tertentu pada diri murid, tergantung perubahan yang diinginkan terjadi sesuai dengan tujuan pendidikan.
Tujuan pendidikan adalah perubahan perilaku yang diinginkan terjadi setelah murid belajar. Tujuan pendidikan dapat dijabarkan mulai dari tujuan nasional, institusional, kurikuler, sampai instruksional Arikunto (Purwanto, 2011:35)

Untuk dapat mencapai tujuan pendidikan nasional maka tujuan pembangunan nasional dalam sektor pendidikan diturunkan ke dalam beberapa tujuan pendidikan mulai tujuan nasional hingga tujuan di tingkat pengajaran.

B.       Kerangka Pikir
Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation  memiliki dampak yang amat positif terhadap rendahnya hasil belajar matematika. Pengajaran matematika melalui pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation  diharapkan dapat menciptakan iklim belajar yang kondusif, yakni murid terbebas dari rasa was-was, cemas, ragu-ragu dalam mengekspresikan ide-ide yang terdapat dalam pikirannya dan memungkinkan murid belajar aktif sehingga dapat meningkatkan hasil belajar matematika murid kelas V SDN 15 Samata.
Adapun bagan dari kerangka pikir di atas adalah: kerangka pikir tentang peningkatan hasil belajar matematika dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation  divisualisasi sebagai berikut:
 













Gambar 2.1 Skema kerangka pikir
C.      Hipotesis Tindakan
Berdasarkan hasil kajian teori di atas, maka hipotesis dari penelitian tindakan kelas ini adalah jika diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation, maka hasil belajar matematika murid Kelas V SDN 15 Samata Kabupaten Bantaeng dapat meningkat.
























BAB III
METODE PENELITIAN
A.      Jenis Penelitian
Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas yang merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan profesionalisme guru. Ciri khas penelitian ini adalah adanya masalah pembelajaran dan tindakan untuk memecahkan masalah. Tahapan penelitian dimulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi, dan refleksi yang dapat diulang sebagai siklus. Refleksi merupakan pemaknaan dari hasil tindakan yang dilakukan dalam rangka memecahkan masalah.
B.       Lokasi dan Subjek Penelitian
Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di SDN 15 Samata Kelurahan Karatuang Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng. Adapun subjek penelitian ini adalah murid kelas V SDN 15 Samata Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng pada semester ganjil tahun ajaran 2012/2013 dengan jumlah murid sebanyak 19 orang murid yang terdiri dari laki-laki 11 orang murid dan perempuan 8 orang murid.
C.      Faktor yang Diselidiki
            Beberapa faktor yang ingin diselidiki dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Faktor proses, yaitu melihat bagaimana keaktifan murid dan aktivitas guru dalam proses pembelajaran melalui penerapan model pembelajaran Group Investigation.
2.    Faktor hasil, yaitu melihat hasil tes yang diperoleh  murid pada akhir setiap siklus untuk mengetahui adanya perubahan tingkat penguasaan materi yang diajarkan melalui penerapan model pembelajaran Group Investigation.
D.      Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan secara bersiklus, setiap siklus dilakukan 4 kali pertemuan yang merupakan rangkaian kegiatan yang saling berkaitan, 3 kali pertemuan merupakan proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Group Investigation dan 1 kali pertemuan untuk tes hasil belajar murid, artinya pelaksanaan  siklus II merupakan lanjutan dari siklus ke I. Menurut kemmis dan taggart 1988 (Sanjaya, 2009:24) penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk penelitian reflektif dan kolektif yang dilakukan peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran praktik sosial mereka, yang meliput: pratindakan, perencanaan, tindakan, observasi/evaluasi dan refleksi.
 



















Bagan 3.1 Prosedur penelitian model kemmis dan teggart, 1988 (Sanjaya 2009:24)

Ø Pratindakan
1.    Mengadakan konsultasi dengan kepala sekolah dalam hal pelaksanaan penelitian tindakan kelas di SDN 15 Samata Kabupaten Bantaeng.
2.    Melakukan diskusi antara peneliti dengan guru untuk mendapat gambaran bagaimana proses pelaksanaan penerapan model pembelajaran Group Investigation yang di laksanakan di SDN 15 Samata Kabupaten Bantaeng.
3.    Mengadakan observasi awal terhadap pelaksanaan penggunaan penerapan model pembelajaran Group Investigation dalam pembelajaran matematika.
Ø Siklus I
1.    Tahap Perencanaan
kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut:
a.    Telaah kurikulum SDN 15 Samata Kabupaten Bantaeng.
b.    Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk 3 kali pertemuan.
c.    Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar mengajar di kelas saat pelaksanaan tindakan.
d.   Mempersiapkan soal-soal essay yang dijadikan tugas untuk diselesaikan secara kelompok dan individu.
e.    Membuat alat evaluasi untuk melihat kemampuan murid dalam menyelesaikan soal-soal yang berdasarkan materi yang diberikan.
2.    Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini tindakan dilaksanakan pada setiap tatap muka. Adapun langkah-langkah yang dilaksanakan sebagai berikut:
a.    Pada awal tatap muka, guru menjelaskan materi sesuai dengan rencana pembelajaran pada pertemuan yang bersangkutan secara klasik disertai dengan contoh soal yang melibatkan murid.
b.    Murid diarahkan untuk membentuk kelompok yang heterogen dengan jumlah anggota sebanyak tiga orang.
c.    Murid diberi tugas atau soal latihan yang sama untuk diselesaikan secara berkelompok. Setiap anggota kelompok diberi nomor 0, 1, 2. Setelah itu anggota kelompok dirotasikan, nomor 1 berpindah searah jarum jam dan nomor 2 sebaliknya berlawanan arah jarum jam. Sedangkan nomor 0 tetap di tempat.
d.   Selama proses belajar kelompok berlangsung, setiap kelompok tetap diawasi, dikontrol, dan diarahkan, serta diberikan bimbingan secara langsung pada kelompok yang mengalami kesulitan.
e.    Lembar jawaban dari tiap kelompok atau individu diperiksa kemudian dikembalikan.
3.    Tahap Observasi
Observasi ini dilakukan pada saat guru melaksanakan proses belajar mengajar. Guru mencatat hal yang dialami oleh murid, situasi dan kondisi belajar murid berdasarkan lembar observasi yang sudah disiapkan dalam hal ini mengenai kehadiran murid, perhatian, keaktifan murid, dan mengikuti proses belajar mengajar.


4.    Tahap Refleksi
Dari hasil yang di dapat dalam tahap observasi dikumpulkan serta dianalisis sehingga diperoleh hasil refleksi kegiatan yang telah dilakukan dalam penerapan model pembelajaran Group Investigation.
Ø Siklus II
Hasil refleksi tindakan yang dilaksanakan pada siklus I, dilakukan perbaikan pelaksanaan pembelajaran pada siklus II. Pelaksanaan tindakan pada siklus II disesuaikan dengan perubahan yang ingin dicapai. Hasil yang dicapai pada siklus ini dikumpulkan serta dianalisis untuk menetapkan suatu kesimpulan tentang hasil belajar murid kelas V SDN 15 Samata Kabupaten Bantaeng, dapat meningkat maka penelitian tindakan kelas ini tidak lagi dilanjutkan pada siklus berikutnya.
E.       Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini berupa instrumen nontes dan instrumen tes.
1.    Lembar Observasi
Lembar observasi merupakan alat pengumpulan data yang digunakan dengan cara mengamati setiap kejadian yang sedang berlangsung dan mencatatnya dengan alat observasi tentang hal-hal yang akan diamati atau di teliti (Sanjaya, 2009:86). Lembar observasi terdiri dari dua yaitu lembar observasi guru dan lembar observasi murid. Lembar observasi guru digunakan untuk mengamati aktivitas guru dalam proses pembelajaran matematika melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Sedangkan lembar observasi murid di gunakan untuk mengamati sikap dan aktivitas murid dalam proses pembelajaran.
2.    Tes
Tes adalah cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh murid atau sekelompok murid sehingga menghasilkan suatu nilai.
Teknik tes dalam penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui hasil belajar murid melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Tes tersebut diberikan kepada murid selama 1 kali dalam 3 kali pertemuan proses pembelajaran.
F.       Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data dilakukan beberapa alat dan cara sebagai berikut:
1.    Data tentang aktivitas guru dan murid dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi.
2.    Data tentang hasil belajar murid dikumpulkan dengan menggunakan tes hasil belajar.
G.      Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul tidak akan bermakna tanpa dianalisis yakni diolah dan di interpretasikan. Oleh karena itu, pengolah dan interpretasikan data merupakan langkah penting dalam penelitian tindakan kelas, maka perlu dilakukan analisis data. Menganalisis data adalah suatu proses mengelolah dan menginterprestasikan data dengan tujuan untuk mendudukkan berbagai informasi sesuai dengan fungsinya hingga memiliki makna dari arti yang jelas sesuai dengan tujuan pendidikan (Sanjaya, 2009:100).
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif yaitu menghitung skor rata-rata, nilai maksimum, nilai minimum, rentang, standar devisi, dan persentasi.
Hasil tes belajar selanjutnya dikategorikan dalam lima kategori standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2006: 19) adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Teknik Kategorisasi Standar berdasarkan Ketetapan Departemen Pendidikan  Nasional.

Taraf keberhasilan
Kualifikasi
0≤ x ≤45
Sangat Rendah
46≤ x ≤54
Rendah
55≤ x ≤69
Sedang
70≤ x ≤84
Tinggi
85≤ x ≤100
Sangat Tinggi

H.      Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah bila skor rata-rata hasil tes murid melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation mengalami peningkatan. Selain itu juga digunakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang di tetapkan di SDN 15 Samata Kabupaten Bantaeng, murid di katakan tuntas belajar apabila mencapai skor 70 ke atas dan tuntas secara klasikal 85% murid yang memperoleh nilai KKM dari ideal 100.


I.         Jadwal Penelitian
No
Kegiatan
Januari
Februari
Maret
Ket
1.      
Survey awal












2.       
Penyusunan proposal











3.       
Perijinan












4.       
Pelaksanaan penelitian pengamatan awal












5.       
Siklus I











6.       
Siklus II











7.       
Penulisan Laporan











8.       
Ujian dan Perbaikan












9.       
Penjilidan dan penggandaan












Catatan : Jadwal penelitian disesuaikan dengan kelender pendidikan nasional





DAFTAR PUSTAKA
Anitah, Sri, W, dkk. 2007. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Depdiknas. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Purwanto. 2011. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rusman. 2011. Model-model Pembelajaran; Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sanjaya. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakaran: Kencana Prenada Media Group.

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif; Konsep, Landasan dan Impementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Prenata Media Group.

Tukiran, dkk. 2012. Pendekatan-Pendekatan Pembelajaran Inovatif. Bandung: Alfabeta.