Jumat, 02 November 2012

STRATEGI PEMBELAJARAN


BAB I
STRATEGI PEMBELAJARAN
A.    Pengertian Strategi Pembelajaran
Istilah strategi yang pada awalnya digunakan dalam lingkungan militer, sekarang ini dipakai dalam berbagai bidang esensi makna yang relatif sama. Istilah strategi, menurut Mulyani Sumantri dan Johar Permana (1998/1999) berasal dari kata strategos atau strategus (Yunani) yang mengandung makna Jenderal atau dalam hal ini perwira negara (state officer) yang bertanggung jawab merencanakan suatu strategi dan mengarahkan pasukannya untuk mencapai kemenangan. Dalam bahasa Inggris, menurut Echols dan Hasan Shadily (2003) kata “strategy” berarti 1) strategi, ilmu siasat (perang), 2) siasat, akal.
Secara spesifik, Shirley (1980) merumuskan pengertian strategi sebagai keputusan-keputusan bertindak yang diarahkan dan keseluruhannya diperlukan untuk mencapai tujuan, sementara J. Salusu (1996) mengartikan strategi sebagai suatu seni yang menggunakan kecakapan dan sumber daya untuk mencapai sasarannya melalui hubungan yang efektif dengan lingkungan dan kondisi yang paling menguntungkan. Kedua pendapat tersebut meskipun formulasinya berbeda tetapi kedua-duanya mengungkapkan bahwa konsep strategi terkait dengan upaya pencapaian tujuan.
Dalam konteks pembelajaran, strategi diartikan oleh T. Raka Joni (1980) yang mendefinisikan strategi belajar-mengajar sebagai pola umum perbuatan guru siswa didalam perwujudan kegiatan belajar-mengajar yang menunjuk kepada karakteristik abstrak dari pada rentetan perbuatan guru-siswa tersebut. Pengertian lain dikemukakan oleh Sudijarto (1990) yang mendefinisikan strategi belajar-mengajar sebagai “upaya memilih, menyusun, dan memobilisasi segala cara, sarana/prasarana dan tenaga untuk menciptakan sistem lingkungan untuk mencapai perubahan perilaku optimal. Senada dengan Sujiarto, Moedjiono (1992/1993) mengemukakan bahwa strategi belajar-mengajar memiliki dua dimensi yaitu dimensi perancangan dan dimensi pelaksanaan.Strategi belajar mengajar pada dimensi perancangan merupakan pemikiran dan pengupayaan secara strategis untuk merumuskan, memilih dan/atau menetapkan aspek-aspek dari komponen pembentuk sistem instruksional sehingga dapat konsisten antara aspek-aspek tersebut… … strategi belajar mengajar pada dimensi pelaksanaan merupakan pemikiran dan pengupayaan secara strategis dari seorang guru untuk memodifikasi dan/atau menyelaraskan aspek-aspek pembentuk sistem instruksional (yang telah ditentukan dalam dimensi perancangan sebelumnya) jika kondisi/suasana aktual di kelas menghendakinya.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa konsep strategi pembelajaran mengandung makna yang multi dimensi dalam arti dapat ditinjau dari berbagai segi, yaitu:
1.      Pada dimensi perancangan, strategi pembelajaran adalah “pemikiran dan pengupayaan secara strategis dalam memilih, menyusun, memobilisasi, dan mensinergikan segala cara, sarana/ prasarana, dan sumber daya untuk mencapai tujuan pembelajaran”.
2.      Pada dimensi pelaksanaan, strategi pembelajaran diartikan sebagai:
a. Keputusan bertindak secara strategis dalam memodifikasi dan menyelaraskan komponen-komponen sistem instruksional (yang telah ditetapkan pada dimensi perancangan) untuk lebih mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran.
b.  Pola umum perbuatan guru siswa dalam perwujudan kegiatan belajar-mengajar yang menunjuk pada karakteristik abstrak dari pada rentetan perbuatan guru-siswa dalam peristiwa belajar-mengajar.
Latihan
Istilah strategi pembelajaran merupakan konsep yang multidimensi. Cobalah anda rumuskan pengertian strategi pembelajaran Sosiologi dengan kalimat anda sendiri !
B.    Klasifikasi Strategi Pembelajaran Secara Sederhana
Didalam meninjau klasifikasi strategi pembelajaran secara sederhana, terdapat berbagai dasar klasifikasi yang dapat digunakan.Dasar klasifikasi adalah kriteria atau titik tolak yang digunakan untuk mengelompokkan sesuatu.
Dasar-dasar klasifikasi tersebut, menurut T. Raka Joni (1984) dapat ditinjau
dari segi:
(1) pengaturan guru dan siswa,
(2) pengolahan pesan,
(3) struktur peristiwa belajar-mengajar, dan
(4) tujuan belajar.
Dari segi pengaturan guru dan siswa, klasifikasi dapat didasarkan atas
(a) pengaturan guru,
(b) hubungan guru-siswa, dan
(c) pengaturan siswa.
Dari segi pengaturan guru, dapat dibedakan atas (i) strategi pembelajaran dengan/oleh seorang guru, dan (ii) strategi pembelajaran dengan/oleh team teaching.
Dari segi hubungan guru-siswa, dapat dibedakan atas (i) strategi pembelajaran tatap muka yaitu pembelajaran dimana guru dan siswa berada dalam satu ruangan/ kelas dengan komunikasi/interaksi pembelajaran yang berlangsung secara face-to-face communication, dan (ii) strategi pembelajaran jarak jauh yaitu pembelajaran dimana guru dan siswa tidak berada dalam satu ruangan/kelas sehingga komunikasi/interaksi pembelajaran berlangsung melalui penggunaan media/teknologi pembelajaran sebagai perantara.
Selanjutnya dari segi pengaturan siswa, dapat dibedakan atas, (i) strategi pembelajaran individual, yaitu pembelajaran yang diorganisir secara individual dengan orientasi pemberian kesempatan kepada setiap siswa secara individual untuk belajar sesuai kemampuan sendiri dengan tujuan untuk mengembangkan potensi/kemampuan setiap individu secara optimal, (ii) strategi pembelajaran kelompok kecil yaitu pembelajaran dimana siswa-siswa diorganisir dalam kelompok-kelompok kecil, besarnya 4-7 orang untuk mendiskusikan dan/atau mengerjakan topik/tugas-tugas yang diperhadapkan kepada siswa (besarnya sekitar 35-45 orang) yang diasumsikan memiliki usia dan kemampuan yang relatif sama dikumpulkan dalam satu kelas, kemudian diajar oleh seorang guru dengan menggunakan format pembelajaran yang sama untuk seluruh murid dalam kelas.
Dari segi pengolahan pesan, klasifikasi dapat dibedakan atas (a) peranan guru dan siswa dalam mengolah pesan, dan (b) proses pengolahan pesan.Dari segi peranan guru dan siswa dalam mengolah pesan, strategi pembelajaran dibedakan atas (i) strategi ekspositorik dan (ii) strategi heuristic.Strategi ekspositorik merupakan strategi pembelajaran yang lebih beriorentasi pada guru dalam arti semua pesan pembelajaran (yang diharapkan untuk dikuasai oleh murid) telah diolah dalam bentuk barang jadi oleh guru untuk selanjutnya disampaikan kepada murid. Guru aktif memberi penjelasan atau informasi secara terperinci tentang bahan pengajaran dengan tujuan utama memindahkan pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai kepada siswa. Peran guru dalam strategi pembelajaran ekspositorik ini adalah : penyusun program pembelajaran, pemberi informasi yang benar, penyedia fasilitas, pembimbing siswa dalam memperoleh informasi/pesan, dan penilai pemerolehan informasi, sementara siswa lebih berperan sebagai pencari/penerima informasi/pesan belajar, pemakai media/sumber belajar, dan menyelesaikan tugas-tugas yang diperhadapkan kepadanya.
Dalam hal itu, strategi heuristik merupakan strategi pembelajaran yang menghendaki siswa untuk terlibat aktif dalam proses pengolahan pesan-pesan belajar (tujuan pembelajaran). Strategi ini lebih berpusat pada siswa (student-centre) dan bertujuan untuk mengembangkan kemampuan intelektual, berfikir kritis, dan memecahkan masalah dari para siswa. Dalam strategi heuristic, peranan guruadalah: menciptakan suasana berfikir sehingga murid berani bereksplorasi dalam penemuan dan pemecahan masalah, sebagai fasilitator dalam pembelajaran dan penelitian, sebagai rekan diskusi siswa dalam klasifikasi dan pencarian alternatif pemecahan masalah, dan sebagai pembimbing penelitian, pendorong keberanian berfikir alternatif dalam pemecahan masalah, sementara peranan siswa adalah mengambil prakarsa dalam pencarian masalah dan pemecahan masalah, pelaku aktif dalam belajar melakukan penelitian. Penjelajah tentang masalah dan metode pemecahan masalah, serta penemu pemecahan masalah.
Dari segi proses pengolahan pesan, strategi pembelajaran dibedakan atas (i) strategi deduktif, dan strategi induktif.
Strategi deduktifadalah strategi pembelajaran dengan proses pengolahan pesan yang berlangsung dari hal-hal yang bersifat umum menuju ke hal-hal yang bersifat khusus. Pada garis besarnya, strategi pembelajaran deduktif meliputi langkah-langkah (a) guru mengemukakan generalisasi, (b) penjelasan konsep-konsep, dan (c) pencarian data yang dilakukan oleh siswa. Dalam hal ini, strategi induktif adalah strategi pembelajaran dengan proses pengolahan pesan yang berlangsung dari hal-hal yang bersifat khusus menuju ke hal-hal yang bersifat umum. Langkah-langkah pembelajaran strategi induktif, pada garis besarnya terdiri atas (a) pengajuan data/fakta atau peristiwa khusus, (b) penyusunan konsep berdasarkan fakta-fakta, dan (c) penyusunan generalisasi berdasarkan konsep-konsep. Bila sudah ada teori yang benar pada umumnya dirumuskan hipotesis, (d) terapan generalisasi pada data baru atau hipotesis, dan (e) penarikan kesimpulan lanjut.
Dari segi struktur peristiwa belajar-mengajar, strategi pembelajaran dibedakan atas (i) strategi yang bersifat tertutup, dan (ii) strategi yang bersifat terbuka.
Pada strategi pembelajaran tertutup, semua komponen pembelajaran seperti penentuan tujuan, materi/media/sumber-sumber belajar serta prosedur/langkah-langkah pembelajaran yang akan ditempuh/dilaksanakan di kelas, semuanya telah dirancang/dilakukan secara ketat oleh guru tanpa melibatkan siswa.
Dalam hal ini, pada strategi pembelajaran terbukasiswa diberi peluang/kesempatan untuk memberikan urunan dalam merancang/menentukan komponen-komponen pembelajaran termasuk dalam menentukan prosedur/langkah-langkah pembelajaran sementara pembelajaran berlangsung.
Dari segi tujuan belajar, Robert Gagne (1984) mengelompokkan kondisi-kondisi belajar (sistem lingkungan belajar) sesuai dengan tujuan-tujuan belajar yang ingin dicapai.Dalam hal ini, Gagne mengemukakan adanya 5 jenis tujuan/hasil belajar, yaitu:
(a)verbal information (informasi verbal)yaitu kemampuan untuk menyatakan atau mengungkapkan kembali secara verbal pengetahuan ataukah informasi yang telah dimilikinya dalam arti bahwa seseorang yang telah memiliki pengetahuan tertentu berkemampuan untuk menuangkan pengetahuan itu dalam bentuk bahasa (baik lisan maupun tulisan yang memadai) sehingga dapat dikomunikasikan kepada orang lain,
(b)intellectual skills (kecakapan intelektual)menunjuk kepada kemampuan untuk berhubungan dengan lingkungan hidup dan dirinya sendiri dalam bentuk suatu representasi, khususnya konsep dan berbagai lambang/simbol(huruf, angka, kata, gambar). Cakupan dari kecakapan intelektual ini meliputi kecakapan yang sangat sederhana sampai kepada kemampuan yang bersifat kompleks sesuai kapasitas intelektual tang dimiliki seseorang. Kecakapan intelektual ini terdiri atas 4 sub kemampuan yang bersifat hierarkhi, yaitu: diskriminasi, konsep, kaidah, dan prinsip.
(c)cognitive strategies (strategi kognitif) menunjuk pada kemampuan mengatur cara/proses belajar dan mengelola/mengorganisir proses berfikir dalam arti yang seluas-luasnya. Seseorang yang memiliki strategi kognitif yang baik akan jauh lebih efisien dan efektif dalam mempergunakan semua konsep dan kaidah yang dimilikinya dibandingkan dengan seseorang yang tidak berkemampuan demikian. Strategi kognitif ini oleh Ruthkopf dinamakan “mathemagenic activities”, oleh Skinner dinamakan “self management behavior”, dan oleh penganut teori pemrosesan informasi dinamakan “executive control processes”,
(d)motor skills (keterampilan motorik) menunjuk kepada kemampuan untuk melakukan rangkaian gerak-gerik jasmani yang dikemudikan oleh sistem saraf disertai koordinasi yang memadai antara kerja otak dan proses psikologis yang mengatur gerak itu dalam urutan tertentu dengan mengadakan koordinasi antara berbagai anggota badan secara terpadu.
(e)attitudes (sikap dan nilai) menunjuk kepada kemampuan internal yang sangat berperan dalam menentukandan mengambil suatu tindakan lebih-lebih bila terbuka berbagai kemungkinan untuk bertindak.
Masing-masing tujuan belajar tersebut mempersyaratkan strategi belajar tertentu (yang oleh Gagne disebut kondisi-kondisi belajar ekstern) tertentu untuk pencapaiannya.Sebagai contoh, untuk mencapai tujuan belajar keterampilan motorik misalnya harus digunakan strategi pembelajaran yang relevan dengan substansi dari belajar keterampilan motorik tersebut.Seperti latihan, sementara untuk tujuan belajar attitudes (sikap dan nilai) memerlukan strategi belajar pemodelan (modeling). Demikian juga dengan tujuan/hasil belajar yang lain.
Dengan demikian ditinjau dari segi tujuan belajar, strategi pembelajaran dapat dibedakan atas strategi pembelajaran untuk pencapaian tujuan/hasil belajar (a0 informasi verbal, (b) ketrampilan intelektual, (c) strategi kognitif, (d) ketrampilan motorik, dan (e) sikap dan nilai.
Latihan
1.      Kemukakan klasifikasi strategi pembelajaran ditinjau dari segi pengaturan guru dan siswa disertai dengan penjelasan singkatnya masing-masing!
2.      Bandingkan antara strategi pembelajaran deduktif dengan strategi pembelajaran induktif dilihat dari sisi:
2.1.Proses pengolahan pesan,
2.2.Langkah-langkah/ tahap-tahap kegiatannya.
3.      Jika anda sebagai guru ingin mengembangkan kemampuan siswa-siswa anda untuk memecahkan masalah dan berfikir kritis, strategi pembelajaran apakah yang seyogyanya anda gunakan? Jelaskan jawaban anda!




                                                                             
BAB II
METODE PEMBELAJARAN
A.     Metode Pembelajaran yang Lebih Berpusat Pada Guru
1.  Metode Ceramah                                                                          
a.      Pengertian dan tujuan metode ceramah
              Menurut Sumantri dan Permana (1998/1999) metode ceramah adalah cara mengajar yang paling populer dan banyak dilakukan oleh guru. Hal ini dikarenakan metode ceramah mudah disajikan dan tidak banyak memerlukan media. Metode ceramah adalah penyajian pelajaran oleh guru dengan cara memberikan penjelasan secara lisan kepada siswa. Penggunaan metode ceramah sangat tergantung pada kemampuan guru. Penguasaan guru terhadap materi pelajaran, kemampuan berbahasa, intonasi suara, penggunaan media dan variasi gaya mengajar lainnya sangat menentukan keberhasilan metode ini.
              Tujuan metode ceramah adalah menyampaikan materi pelajaran yang bersifat informasi, yaitu konsep, pengertian, prinsip-prinsip yang banyak dan luas serta hasil-hasil penemuan-penemuan baru yang belum terpublikasikan secara meluas.
              Secara lebih khusus tujuan metode ceramah adalah:
1.      Menciptakan landasan pemikiran siswa agar dapat belajar melalui bahan tertulis hasil ceramah guru.
2.      Menyajikan garis-garis besar isi pelajaran dan permasalahan penting.
3.      Merangsang siswa untuk belajar mandiri dan menumbuhkan rasa ingin tahu melalui pengayaan belajar.
4.      Memperkenalkan hal-hal baru dan memberikan penjelasan secara gamblang teori dan prakteknya.
5.      Sebagai langkah awal untuk metode yang lain dalam upaya menjelaskan prosedur yang harus ditempuh siswa. Misalnya sebelum eksperimen siswa diberi penjelasan tentang apa-apa yang harus dilakukan oleh siswa.
b.      Alasan Penggunaan Metode Ceramah
1.      Siswa benar-benar memerlukan penjelasan guru  karena bahan baru atau langkanya sumber pustaka, dan untuk menghindari kesalahpahaman.
2.      Karena tidak ada buku sumber pelajaran yang tersedia.
3.      Menghadapi siswa yang banyak jumlahnya, dan bila menggunakan metode lain sukar diterapkan.
4.      Menghemat waktu, biaya dan peralatan.
c.         Kekuatan Metode Ceramah
1.      Murah dalam arti efisien dilihat dari segi waktu, biaya dan tersedianya guru.
2.      Mudah dalam arti materi dapat disesuaikan dengan terbatasnya waktu.
3.      Meningkatkan daya dengar  dan menumbuhkan minat belajar dari sumber lain.
4.      Memperoleh pengaturan, dalam arti guru memperoleh penghargaan, kepuasan dan sikap percaya diri dari siswa yang diajar jika siswa memperhatikannya dan kelihatan senang karena mengajarnya guru baik.
5.      Ceramah dapat memberikan wawasan yang luas karena guru dapat menambah dan mengkaitkan dengan sumber dan materi lain dalam kehidupan sehari-hari.
d. Kelemahan Metode Ceramah
1.      Siswa dapat menjadi jenuh terutama kalau guru tidak pandai menjelaskan.
2.      Dapat menimbulkan verbalisme pada siswa.
3.      Materi ceramah terbatas pada yang diingat guru.
4.      Bagi siswa yang ketetrampilan mendengarkannya kurang akan dirugikan.
5.      Siswa dijejali dengan konsep yang belum tentu dapat diingat terus.
6.      Informasi tang disampaikan mudah usang dan ketinggalan zaman.
7.      Tidak merangsang berkembangnya kreatifitas siswa.
8.      Terjadi interaksi satu arah yaitu dari guru kepada siswa.

e.      Cara Mengatasi Kelemahan Metode Ceramah
1.      Selang-selinglah ceramah dengan pertanyaan.
2.      Gunakan alat peraga baik langsung maupun tiruan, serta lakukan demonstrasi untuk meragakan konsep yang anda kemukakan.
3.      Ciptakan interaksi yang bervariasi antara guru-siswa, siswa-guru, siswa-siswa.
4.      Lakukan gaya mengajar yang bervariasi supaya siswa tidak bosan.

d.        Langkah- Langkah Pelaksanaan Metode Ceramah
Kegiatan Persiapan
1.      Merumuskan tujuan yang ingin dicapai.
2.      Menentukan pokok-pokok materi yang akan diceramahkan.
3.      Mempersiapkan alat bantu. Alat bantu ini dapat mempermudah pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Disamping itu alat bantu juga dapat membantu meningkatkan kualitas ceramah.
Kegiatan Pelaksanaan
1.      Kegiatan Pembukaan.
a.      Apersepsi yaitu menanyakan kembali pelajaran yang lalu.
b.      Motivasi yaitu suatu anekdot yang berusaha mengaitkan peristiwa dalam kehidupan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan.
c.       Menyampaikan tujuan atau pokok-pokok materi yang akan diajarkan.
2.      Kegiatan Inti Pelajaran,Yaitu kegiatan penyampaian materi pembelajaran melalui informasi lisan. Agar ceramah guru berkualitas maka guru harus dapat menarik perhatian siswa agar tetap terarah pada materi yang sedang disampaikan. Untuk menjaga perhatian siswa, guru perlu melakukan hal-hal berikut:
a.      Menjaga kontak pandang dengan siswa secara terus menerus.
b.      Gunakan bahasa yang komunikatif agar mudah dimengerti siswa.
c.       Sajikan materi secara sistematis.
d.      Tanggapi respon siswa dengan segera dan secara antusias.
e.      Jagalah suasana kelas agar tetap kondusif dan menggairahkan untuk belajar.
f.        Selang-selinglah ceramah anda dengan pertanyaan-pertanyaan/tanya jawab.
Kegiatan Mengakhiri Kelas
1.     Membimbing siswa membuat rangkuman materi.
2.     Melakukan evaluasi formatif.
3.     Melakukan tindak lanjut.
Latihan1
Jelaskancara mengatasi kelemahan metode ceramah sehingga metode itu tidak membosankan dan tidak menimbulkan verbalisme pada peserta!
2.  Metode Tanya Jawab
a.      Pengertian dan Tujuan.
              Metode tanya jawab adalah cara penyampaian suatu pelajaran melalui interaksi dua arah dari guru kepada siswa atau dari siswa kepada guru agar diperoleh jawaban keputusan materi melalui jawaban lisan guru atau siswa. Dalam metode tanya jawab, guru dan siswa sama-sama aktif. Siswa dituntut untuk aktif agar mereka tidak tergantung pada keaktifan guru. Rasa ingin tahu  siswa harus ditumbuh-suburkan agar ia menjadi manusia yang kreatif. Untuk itu guru harus menguasai ketrampilan bertanya dan juga harus mempunyai semangat yang tinggi didalam menciptakan situasi yang kondusif bagi terlaksananya tanya jawab yang mendidik.Adapun tujuan metode tanya jawab adalah:
1.      Untuk mengetahui siswa terhadap materi pelajaran.
2.      Mendorong siswa berani mengajukan pertanyaan kepada guru tentangmasalah yang belum dipahami.
3.      Menimbulkan kompetisi belajar yang sehat, dimana siswa yang aktif dan dapat menjawab pertanyaan guru atau siswa lain dengan baik akan lebih percaya diri dan akan terus berusaha untuk lebih baik lagi, dan siswa yang belum aktif atau tidak dapat menjawab pertanyaan guru atau siswa lainnya dapat mempersiapkan diri lebih baik lagi dalam kesempatan lain.
4.      Melatih siswa untuk berfikir dan berbicara secara sistematis dan sistemik berdasarkan pemikiran yang orisinal.
5.      Dengan metode tanya jawab siswa diarahkan agar mengerti, memahami dan berinteraksi secara aktif dalam pembelajaran sehingga tujuan dapat dicapai dengan baik.
b.      Alasan Menggunakan Metode Tanya Jawab
1.      Menimbulkan rasa ingin tahu siswa terhadap permasalahan yang sedang dibicarakan sehingga timbul partisipasi aktif dan aktifitas mental yang tinggi.
2.      Menimbulkan pola fikir reflektif, sistematis, kreatif dan kritis.
3.      Mewujudkan cara belajar siswa aktif.
4.      Melatih dan memberanikan siswa untuk belajar mengekspresikan kemampuan lisan.
5.      Memberi kesempatan siswa menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya.
c.       Kekuatan Metode Tanya Jawab
1.      Dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa terhadap pelajaran.
2.      Mengetahui kedudukan atau kualitas siswa dalam belajar di kelas.
3.      Dapat merangsang siswa menggunakan daya fikir dan nalarnya.
4.      Menimbulkan keberanian dalam mengemukakan jawaban.
d. Keterbatasan  Metode Tanya Jawab
       1. Pada kelas yang jumlah siswanya besar pertanyaan dapat disebarkan ke seluruh siswa sehingga siswa tidak memiliki kesempatan yang sama untuk menjawab ataupun bertanya.
       2. Siswa yang tidak aktif tidak memperhatikan, bahkan tidak terlibat secara mental.
       3. Sering guru tidak memiliki ketrampilan bertanya yang memadai sehingga tujuan pelajaran tidak tercapai.
       4. Menimbulkan rasa rendah diri pada siswa yang tidak memiliki keberanian menjawab atau bertanya.
       5. Dapat membuang-buang waktu bila siswa tidak responsif terhadap pertanyaan.
d.      Cara Mengatasi Kelemahan Metode Tanya Jawab
1.      Jumlah siswa dalam satu kelas tidak boleh lebih dari 40 orang siswa, agar pertanyaan guru dapat dijawab oleh sebagian besar siswa.
2.      Siswa yang tidak aktif harus diminta mengulangi jawaban siswa yang benar, jika siswa dapat mengulangi jawaban temannya tadi dengan benar, maka dia harus diberi penguatan positif agar ia tertarik dan ikut aktif.
3.      Guru harus terampil dalam mengemukakan pertanyaan.
4.      Pertanyaan-pertanyaan harus disusun mulai dari yang mudah sampai dengan yang sukar agar siswa yang kurang pintar dapat pula menjawab pertanyaan.
e.      Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Tanya Jawab
Kegiatan Persiapan
1.      Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah pembelajaran berakhir.
2.      Siapkan materi pembelajaran sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.
3.      Siapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan digunakan.
              Kegiatan Pelaksanaan
1.      Kegiatan pembukaan
      a. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memotivasi siswa.
                     b. Mengajukan tujuan: pembelajaran yang ingin dicapai.
2.      Kegiatan Inti Pelajaran
                     Kegiatan ini dilakukan melalui metode tanya jawab dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a.      Ajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi pelajaran seperti yang telah dipersiapkan sebelumnya.
b.      Gunakan ketrampilan-ketrampilan bertanya dasar dan lanjut seperti memberi acuan, pemusatan, menggilir, menyebarkan, memberi waktu berfikir, memberi tuntunan, mengajukan pertanyaan melacak dan sebagainya.
c.       Jangan lupa memberi penguatan yang dapat menjawab pertanyaan uru dan menghindari pemberian penguatan negatif bagi siswa yang tidak dapat menjawab pertanyaan atau yang jawabannya salah.
d.      Beri tuntunan siswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan guru atau bagi siswa yang jawabannya salah. Jika siswa tidak dapat menjawab pertanyaan alihkan ke beberapa siswa lain sampai diperoleh jawaban yang benar. Siswa yang menjawab salah diminta mengulangi jawaban yang benar dan diberi penguatan yang benar. Jika tidak ada satupun siswa yang menjawab dengan benar, maka guru harus menjawab dan memberi penjelasan.
e.      Jika ada siswa yang bertanya lemparkan pertanyaan itu pada siswa lain untuk menjawabnya, jangan terburu-buru guru sendiri yang menjawab pertanyaan itu.
f.        Pertanyaan guru yang shahih (analisis, sintesis dan evaluasi) beri kesempatan siswa mendiskusikan dengan teman sebangkunya untuk memperoleh jawaban yang benar.
g.      Setiap pokok bahasan yang selesai dipertanyankan guru meminta siswa untuk membuat kesimpulannya.
Kegiatan Mengakhiri Tanya Jawab
a.      Guru membimbing siswa membuat rangkuman  melalui tuntunan atau pertanyaan-pertanyaan pelacak.
b.      Guru melakukan evaluasi.
c.       Guru memberi tugas untuk mempelajari materi pelajaran di rumah untuk makin menguasai materi tersebut.
Latihan 2
Jelaskan keunggulan dan kelemahan dari metode tanya-jawab!
3.  Metode Demonstrasi
a.      Pengertian dan Tujuan
              Sanjaya (2006), dan Sumantri dan Permana (1998/1999) mengemukakan bahwa demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan pada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam bentuk tiruan yang dipertunjukkan oleh guru atau sumber belajar lain yang ahli dalam topik bahasan yang harus didemonstrasikan.Metode Demonstrasi biasanya berkenaan dengan tindakan-tindakan atau prosedur yang dilakukan misalnya: proses mengerjakan sesuatu, proses menggunakan sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain, atau untuk mengetahui/melihat kebenaran sesuatu.Metode demonstrasi digunakan dengan tujuan:
1.     Mengajarkan suatu proses atau prosedur yang harus dikuasai oleh siswa.
2.     Mengkongkritkan informasi atau penjelasan kepada siswa.
3.     Mengembangkan kemampuan pengamatan para siswa secara bersama-sama.
b.      Alasan Penggunaan metode Demonstrasi
Guru menggunakan metode demonstrasi apabila:
1.      Tidak semua topik dapat dijelaskan secara gamblang dan konkrit.
2.      Karena tujuan  dan sifat materi pelajaran yang menuntut dilakukan peragaan berupa demonstrasi.
3.      Tipe belajar siswa yang berbeda-beda, ada yang kuat visual, tetapi lemah dalam auditif dan motorik, ataupun sebaliknya.
4.      Memudahkan mengajarkan suatu proses atau cara kerja.
5.      Sesuai dengan langkah perkembangan kognitif siswa yang masih dalam fase operasional konkrit.
c.       Kekuatan Metode Demonstrasi
1.      Pelajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkrit sehingga tidak terjadi verbalisme.
2.      Siswa akan lebih mudah memahami materi pelajaran yang didemonstrasikan itu.
            3. Proses pembelajaran akan sangat menarik, sebab siswa tak hanya mendengar tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
            4. Siswa akan lebih aktif mengamati dan tertarik untuk mencobanya sendiri.
d.      Kelemahan Metode Demonstrasi
1.      Tidak semua guru dapat melakukan demonstrasi dengan baik.
2.      Terbatasnya sumber belajar, alat pelajaran, media pembelajaran, situasi yang sering tidak mudah diatur dan terbatasnya waktu.
3.      Demonstrasi memerlukan waktu yang lebih banyak dibanding dengan metode ceramah dan tanya jawab.
4.      Metode demonstrasi memerlukan persiapan dan perancangan yang matang.
e.      Cara Mengatasi Keterbatasan Metode Demonstrasi
1.      Guru harus terampil melakukan demonstrasi.
2.      Melengkapi sumber, alat dan media pembelajaran yang diperlukan untuk demonstrasi.
3.      Mengatur waktu sebaik mungkin.
4.      Membuat rancangan dan persiapan demonstrasi sebaik mungkin.
f.Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Demonstrasi
Kegiatan Persiapan
1. Merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa.
2. Menyusun materi yang akan diajarkan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
3. Menyiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan untuk mempermudah penguasaan materi yang telah disiapkan.
4. Melakukan latihan pendemonstrasian termasukcara penggunaan peralatan yang diperlukan.
Kegiatan Pelaksanaan Metode Demonstrasi
Kegiatan Pembukaan
1.   Aturlah tempat duduk yang memungkinkan setiap siswa dapat memperhatikan apayang didemonstrasikan guru.
2.   Tanyakan pelajaran sebelumnya.
3.   Timbulkan motivasi siswa dengan mengemukakan anekdot atau kasus di masyarakat yang ada kaitannya dengan pelajaran yang akan dibahas.
4.   Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa dan juga tugas-tugas apa yang harus dilakukan disamping dalam demonstrasi nanti.
Kegiatan Inti Pembelajaran
1.     Mulailah melakukan demonstrasi sesuai yang telah direncanakan.
2.     Pusatkan perhatian siswa kepada hal-hal penting yang harus dikuasai dari demonstrasi sehingga siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan sebaik-baiknya.
3.     Ciptakan suasana kondusif dan hindari suasana yang menegangkan.
4.     Berikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dan kritis mengikuti proses demonstrasi termasuk memberi kesempatan bertanya dan komentar-komentar.
Kegiatan Mengakhiri Pembelajaran
1.     Meminta siswa merangkum pokok-pokok atau langkah-langkah kegiatan demonstrasi.
2.     Memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum dipahami.
3.     Melakukan evaluasi, baik evaluasi hasil belajar maupun evaluasi bersama tentang jalannya proses demonstrasi.
4.     Tindak lanjut baik berupa tugas-tugas berikutnya maupun tugas-tugas mendalami materi yang baru diajarkan.
Latihan 3.
Jelaskan langkah-langkah pelaksanaan kegiatan pembelajaran metode demonstrasi!      


4.  Metode Diskusi
a.      Pengertian dan tujuan.
              Sanjaya (2006), dan Sumantri dan Permana (1998/1999) menyatakan bahwa metode diskusi diartikan sebagai siasat untuk menyampaikan bahan pelajaran yang melibatkan siswa secara aktif untuk membicarakan dan menemukan alternatif pemecahan suatu topik bahasan yang bersifat problematis.Dalam percakapan itu para pembicara tidak boleh menyimpang dari pokok pembicaraan yaitu masalah yang ingin dicarikan alternatif pemecahannya.Dalam diskusi ini guru berperan sebagai pemimpin diskusi, atau guru dapat mendelegasikan tugas sebagai pemimpin itu kepada siswa, walaupun demikian guru masih harus mengawasi pelaksanaan diskusi yang dipimpin oleh siswa itu.Pengdelegasian itu terjadi kalau siswa dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok diskusi.Pemimpin diskusi harus mengorganisir kelompok yang dipimpinnya agar setiap anggota diskusi dapat berpartisipasi secara aktif.
              Adapun tujuan metode Diskusi ini adalah:
1.      Memecahkan materi pembelajaran yang berupa masalah atau problematik yang sukar dilakukan oleh siswa secara perorangan.
2.      Mengembangkan keberanian siswa mengemukakan pendapat.
3.      Mengembangkan sikap toleran terhadap pendapat yang berbeda.
4.      Melatih siswa mengembangkan sikap demokratis, ketrampilan berkomunikasi, mengeluarkan pendapat, menafsirkan dan menyimpulkan pendapat.
5.      Melatih dan membentuk kestabilan sosial-emosional.
b. Alasan Penggunaan Metode Diskusi
        1.  Topik bahasan bersifat problematic.
2.  Merangsang peserta  untuk terlibat secara aktif dalam perdebatan ilmiah.
        3.  Melatih peserta didik untuk berfikir kritis dan terbuka.
        4.  Mengembangkan suasana demokratis dan melatih peserta berjiwa besar.
        5.  Peserta didik memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang masalah yang dijadikan topik diskusi.
6.      Peserta didik memiliki pengetahuan dan pendapat-pendapat tentang masalah yang akan didiskusikan.
7.      Masalah yang didiskusikan akan berhubungan dengan persoalan-persoalan yang lain pula.

b.      Kelebihan Metode Diskusi
1.   Siswa dapat menguasai materi pelajaran secara bersama-sama.
2.   Merangsang siswa untuk lebih kreatif menyumbangkan gagasan dan ide-ide.
3.   Melatih siswa membiasakan diri bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan.
4.   Menyajikan materi yang tidak bisa disajikan oleh metode lain.
c.       Kelemahan Metode Diskusi
1.   Sering diskusi dikuasai oleh dua atau tiga orang siswa yang pandai bicara.
2.   Pembahasan dalam diskusi cenderung meluas, sehingga hasilnya kabur.
3.   Diskusi memerlukan waktu yang cukup panjang, sehingga tidak sesuai dengan jadwal pelajaran yang ada.
4.   Dalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat yang bersifat emosional sehingga menimbulkan ketersinggungan antar siswa yang menyebabkan terganggunya iklim pembelajaran.
5.   Kadang-kadang guru tidak menguasai cara menyelenggarakan diskusi sehingga diskusi cenderung menjadi tanya jawab.
d.      Cara Mengatasi Kelemahan Diskusi
1.   Masalah yang didiskusikan harus cukup sulit dan menarik perhatian siswa karena berkaitan dengan kehidupan mereka.
2.   Guru harus menempatkan dirinya sebagai pemimpin diskusi. Ia harus membagi-bagi pertanyaan dan memberi petunjuk tentang jalannya diskusi.
3.   Tempat duduk harus diatur melingkar atau berbentuk tapal kuda supaya peserta diskusi dapat saling berhadapan sehingga terjadi komunikasi yang lancar.
4.   Setiap siswa peserta diskusi harus memahami masalah yang harus didiskusikan, untuk itu guru sebagai pemimpin diskusi harus terlebih dahulu menjelaskan masalah yang akan didiskusikan dan garis besar arah dan tujuan yang ingin dicapai.

e.      Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Diskusi
1)      Kegiatan Persiapan
a.      Merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam diskusi.
b.      Mengidentifikasi masalah yang cukup sulit yang berupa problematik sehingga memerlukan diskusi untuk memecahkannya.
c.       Memilih jenis diskusi yang cocok apakah itu diskusi kelas, diskusi kelompok kecil, symposium, atau diskusi panel tergantung pada tujuan yang ingin dicapai misalnya: apabila tujuan diskusi suatu persoalan, aka dipilih jenis diskusi kelompok kecil, sedang jika tujuannya untuk mengembangkan gagasan siswa maka symposium dianggap sebagai jenis diskusi yang tepat.

2)      Kegiatan Pelaksanaan Metode Diskusi
                        Kegiatan Pembukaan
a.      Menanyakan materi pelajaran yang pernah diajarkan (apersepsi).
b.      Mengemukakan permasalahan yang ada di masyarakat yang ad kaitannya dengan masalah yang akan didiskusikan.
c.       Mengemukakan tujuan diskusi serta tata cara yang harus dalam diskusi.
                        Kegiatan Inti Pembelajaran
a.      Guru mengemukakan materi pelajaran hakekat permasalahan tersebut.
b.      Guru berusaha memusatkan perhatian peserta diskusi dengan cara antara lain: mengingatkan arah diskusi yang sebenarnya, mengakui kebenaran gagasan siswa dengan  menggalang bagian penting yang telah diucapkan siswa, merangkum hasil pembicaraan pada tahap tertentu sebelum berpindah pada masalah berikutnya.
c.       Memperjelas uraian pendapat siswa karena ide yang disampaikan kurang jelas sehingga sukar dimengerti oleh anggota diskusi.
d.      Menganalisis pandangan siswa karena terjadi perbedaan pendapat antar anggota diskusi dengan jalan meneliti apakah alasan siswa tersebut mempunyai dasar yang kuat, memperjelas hal-hal yang disepakati.
e.      Meningkatkan uraian pendapat siswa dengan jalan mengajukan pertanyaan kunci yang menantang siswa untuk berfikir, memberi komentar positif terhadap pendapat siswa, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan sikap yang bersahabat.
f.        Menyebarkan kesempatan berpartisipasi agar pembicaraan tidak didominasi oleh beberapa orang siswa yang enggan berpartisipasi, memberi giliran pada siswa yang pendiam, meminta siswa mengomentari pendapat temannya, dan menengahi pendapat yang sama kuat.
                        Kegiatan Penutup
a.  Meminta siswa atau wakil kelompok melaporkan hasil diskusi.
b.  Meminta siswa/kelompok lain mengomentari dan melengkapi rumusan hasil diskusi.
c.  Memberi tugas untuk memperdalam hasil diskusi.
Latihan 4
Jelaskan bagaimana peranan guru dalam memimpin diskusi!

5.  Metode Simulasi
a.      Pengertian dan tujuan Metode Simulasi.
              Abimanyu dan Purwanto (1980), Sumantri dan Permana (1998/1999) menyatakan bahwa metode pembelajaran digunakan untuk menirukan keadaan sebenarnya kedalam situasi buatan, misalnya seorang guru mensimulasikan bagaimana cara melompat tinggi dengan gaya panggung atau bagaimana seorang penatar P4 mensimulasikan kehidupan masyarakat Pancasila, dimana setiap peserta penataran ada yang berperan sebagai lurah/RW/RT dan anggota masyarakat yang kesemuanya berperan secara sungguh-sungguh seperti yang dialami dalam kehidupan sosial di kelurahan itu.
              Dengan demikian simulasi adalah suatu usaha pembelajaran untuk memperoleh pemahaman akan hakekat suatu konsep atau prinsip, atau sesuatu ketrampilan tertentu melalui proses kegiatan atau latihan dalam situasi tiruan. Melalui simulasi itu siswa akan mampu menghadapi kenyataan yang mungkin terjadi secara lebih efektif dan efisien.
Tujuan digunakan metode simulasi adalah sebagai berikut:
Tujuan langsung
1.      Untuk melatih ketrampilan tertentu baik yang bersifat profesional maupun kehidupan sehari-hari.
2.      Untuk memperoleh pemahaman tentang konsep atau prinsip.
3.      Untuk latihan memecahkan masalah.
Tujuan tidak langsung
1.      Untuk meningkatkan aktifitas belajar dengan melibatkan siswa dalam mempelajari situasi yang hampir sama dengan kejadian sebenarnya.
2.      Untuk meningkatkan motivasi belajar, karena simulasi sangat menarik dan menyenangkan siswa.
3.      Melatih siswa bekerja sama dalam kelompok.
4.      Mengembangkan daya kreatif siswa.
5.      Melatih siswa untuk memahami dan menghargai pendapat orang lain.

b.      Alasan Penggunaan Metode Simulasi
1.      Simulasi dapat menunjang pelaksanaan dalam melatih ketrampilan dalam mengajar yang sangat diperlukan bagi terbentuknya guru-guru yang profesional.
2.      Simulasi merupakan salah satu metode yang memungkinkansiswa aktif belajar menghayati, memahami dan memperoleh keterampilan tertentu tanpa memerlukan obyek atau situasi yang sebenarnya yang umumnya susah didapatkan.
3.      Metode simulasi memungkinkan terpadunya teori dan praktek, konten dan metode, sebab dengan simulasi teori atau konten yang baru diajarkan dapat segera dipraktekkan, sehingga konsep yang diperoleh dan ketrampilan yang dimiliki menjadi sangat kuat tertanam dalam diri siswa.
4.      Melalui metode simulasi memungkinkan siswa belajar dengan pemahaman bukan belajar secara mekanis.
5.      Dengan metode simulasi dimungkinkan pelibatan alat-alat indra siswa secara optimal, sehingga pencapaian tujuan pelajaran akan lebih efektif dan bermakna.

c.       Kekuatan Metode Simulasi
1.      Menciptakan kegairahan siswa untuk belajar.
2.      Mengembangkan daya cipta siswa.
3.      Siswa dapat menguasai keterampilan atau konsep-konsep tertentu melalui simulasi.
4.      Mengembangkan rasa percaya diri dan perasaan positif.
5.      Melalui simulasi kegiatan pembelajaran dapat berlangsung walaupun tidak dalam situasi dan obyek yang sebenarnya.
6.      Melalui simulasi siswa dibantu memahami hal-hal yang abstrak melalui kegiatan nyata, walaupun dalam bentuk tiruan.

d.      Kelemahan Metode Simulasi
1.      Pengetahuan dan keterampilan yang disimulasikan tidak selalu sepenuhnya sama dengan kenyataan di lapangan.
2.      Simulasi memerlukan kreatifitas yang tinggi dari guru dan siswa yang kadang-kadang sukar dipenuhi.
3.      Perlu pemahaman siswa tentang materi dan peranannya serta fasilitas pendukung yang tidak selalu mudah terpenuhi.
4.      Simulasi sebagai metode pembelajaran dapat melenceng tujuannya menjadi alat hiburan.
5.      Rasa malu, ragu-ragu dan tidak menguasai materi akan menyebabkan simulasi tidak mencapai tujuan.
6.      Sering guru tidak melakukan diskusi balikan setelah selesai pelaksanaan simulasi, sehingga kurang bermanfaat bagi siswa lainnya.
e.      Cara Mengatasi Kelemahan Metode Simulasi
1.      Perlu pengkajian yang cermat tentang pengetahuan dan ketrampilan yang akan disimulasikan agar sesuai dengan kenyataan lapangan.
2.      Guru perlu menyiapkan materi dan scenario simulasi sebelum simulasi dilaksanakan.
3.      Guru perlu menjelaskan kepada siswa bahwa simulasi ini adalah latihan keterampilan tertentu bukan suatu hiburan karena siswa dalam tahap evaluasi mereka akan ditanya pengetahuan dan ketrampilan yang disimulasikan itu.
4.      Setelah simulasi berakhir harus dilakukan diskusi balikan yang melibatkan semua siswa agar siswa yang tidak melakukan simulasi ikut memahami hasil simulasi itu.
5.      Siswa yang akan memegang peranan dalam simulasi perlu latihan yang memadai sebelum melakukan simulasi agar tidak terjadi keragu-raguan, rasa malu dan tidak menguasai materi.
f.Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Simulasi
              Kegiatan Persiapan
1.      Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai oleh siswa.
2.      Memilih materi dan topik yang akan disimulasikan.
3.      Menyiapkan garis besar scenario pelaksanaan simulasi.
4.      Guru memberi penjelasan kepada siswa tentang garis besar materi, tujuan dan situasi yang akan disimulasikan.
5.      Guru mengorganisasikan pembentukan kelompok, peranan-peranan yang akan ada, pengaturan ruangan, pengaturan materi, pengaturan alat yang akan digunakan dan sebagainya.
6.      Menawarkan kepada siswa tentang siapa yang akan memegang peran dalam simulasi.
7.      Guru memberi penjelasan kepada siswa dan para pemegang peran tentang hal-hal yang harus dilakukan.
8.      Guru memberi kesempatan bertanya.
9.      Guru memberi kesempatan pada tiap kelompok dan para pemegang peran untuk menyiapkan diri.
10.  Guru menetapkan alokasi waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan simulasi.
              Kegiatan Pelaksanaan
1.   Kegiatan Pembukaan
a.      Menanyakan materi pelajaran yang lalu.
b.      Membuat cerita anecdote yang ada kaitannya dengan pelajaran yang akan diajarkan.
c.       Menyampaikan tujuan pelajaran yang akan dilakukan dengan simulasi.
2.   Kegiatan Inti
Setelah segala sesuatunya siap, maka simulasi dimulai:
a.      Siswa yang tidak memainkan peran akan bertindak selaku pengamat/observer. Mereka dibekali panduan observasi untuk merekam peranan yang dimainkan oleh para pelaku simulasi.
b.      Para pemegang peran melakukan simulasi sesuai dengan scenario atau pedoman umum yang telah dibuat oleh guru atau yang telah disiapkan oleh para pemegang peran.
c.       Guru membantu mensupervisi, dan memberi sugesti demi kelancaran pelaksanaan simulasi.
d.      Memberi kesempatan pada para pengamat untuk menyampaikan kritik, dan laporan hasil pengamatannya.
e.      Memberi kesempatan kepada para pemegang peran untuk memberikan klarifikasi.
3.   Kegiatan Menutup Simulasi
a.      Guru meminta siswa membuat kesimpulan-kesimpulan dan rangkuman.
b.      Guru melakukan evaluasi.
c.       Jika berdasarkan hasil evaluasi ternyata simulasi yang dilakukan tidak mencapai tujuan, maka para pemegang peran diminta mengulang lagi simulasi dengan memperhatikan masukan dari para observer, atau guru dapat menunjuk siswa lain untuk melaksanakan simulasi ulang tersebut.
Latihan 5
Jelaskan mengapa simulasi digunakan sebagai metode pembelajaran di sekolah?
6.  Metode Pemberian Tugas
a.      Pengertian dan tujuan.
              Sagala (2006) mengemukakan bahwa metode pemberian tugas adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan cara memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar, dan kemudian hasil pelaksanaan tugas itu ilaporkan kepada guru.
              Tujuan penggunaan metode pemberian tugas adalah:
1.      Untuk memperdalam bahan ajar yang ada.
2.      Untuk mengecek penguasaan siswa terhadap bahan yang telah dipelajari.
3.      Untuk membuat siswa aktif belajar, baik secara individu maupun kelompok.

b.      Alasan Penggunaan Metode Pemberian Tugas
1.      Siswa diaktifkan baik secara mental maupun fisik dalam menguasai materi pelajaran.
2.      Siswa akan lebih mudah menguasai materi pelajaran dan siswa diperluas pengetahuannya tentang materi pelajaran tersebut.
3.      Siswa dibiasakan tidak cepat puas dengan apa yang dipelajari dari materi ajar yang telah ada sehingga dapat dikembangkan sikap ingin tahu dan haus ilmu pengetahuan.
4.      Siswa akan termotivasi belajar dan dilatih problem solving.

c.       Kekuatan Metode Pemberian Tugas
1.      Pengetahuan yang dipelajari lebih meresap, tahan lama, dan lebih otentik.
2.      Melatih siswa untuk berani mengambil inisiatif, bertanggung jawab, dan berdiri sendiri.
3.      Tugas yang diberikan guru dapat memperdalam, memperkaya atau memperluas wawasan siswa tentang apa yang dipelajari.
4.      Siswa dilatih kebiasaan mencari dan mengolah informasi sendiri.
5.      Metode ini jika dilakukan berbagai variasi dapat menggairahkan siswa belajar.
d.      Kelemahan Metode Pemberian Tugas
1.      Bagi siswa yang malas cenderung melakukan kecurangan atau mereka hanya meniru pekerjaan orang lain.
2.      Ada kalanya tugas itu dikerjakan oleh orang lain sehingga siswa tidak memperoleh hasil belajar apa-apa.
3.      Jika tugas yang diberikan siswa terlalu berat dapat menimbulkan stress pada siswa.
4.      Ada kalanya guru memberi tugas tanpa menyebutkan sumbernya, akibatnya siswa sulit untuk menyelesaikannya.
e.      Langkah-langkah Penggunaan Metode Pemberian Tugas.
Kegiatan Persiapan                                
a.      Merumuskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
b.      Menyiapkan pokok-pokok materi pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
c.       Menyiapkan tugas-tugas kegiatan yang akan diberikan kepada siswa.

Kegiatan Pelaksanaan
              Kegiatan Pembukaan
a.      Mengajukan pertanyaan Apersepsi.
b.      Memotivasi siswa dengan mengemukakan cerita yang ada di masyarakat yang ada kaitannya dengan materi yang akan diajarkan.
c.       Mengemukakan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Kegiatan Inti Pelajaran
a.      Guru menerangkan secara garis besar materi pelajaran yang akan diajarkan.
b.      Guru menjelaskan rincian tugas dan cara mengerjakannya.
c.       Siswa mengerjakan tugas sesuai dengan petunjuk penyelesaian tugas, antaranya adalah menggunakan lembar kegiatan siswa.
d.      Jika tugas itu direncanakan untuk diselesaikan selama jam pelajaran yang ada, maka guru meminta siswa melaporkan hasil penyelesaian tugasnya.
e.      Guru memeriksa hasil penyelesaian tugas siswa.
f.Jika tugas itu direncanakan untuk diselesaikan di rumah, maka siswa diberi tahu kapan hasil tugas itu harus diserahkan pada guru untuk diperiksa oleh guru.
Latihan 6
Jika anda mengajar dengan menggunakan metode pemberian tugas kegiatan inti pelajaran, apa saja yang harus anda lakukan?
B.      Metode Pembelajaran yang Lebih Berpusat Kepada Siswa.

1.      Metode Kerja Kelompok
Sagala (2006) mengatakan bahwa metode kerja kelompok adalah cara pembelajaran dimana siswa dalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri untuk mempelajari materi pelajaran yang harus dikerjakan secara bersama-sama.
Pada umumnya materi pelajaran yang harus dikerjakan secara bersama-sama dalam kelompok itu diberikan atau disiapkan oleh guru.Materi itu harus cukup kompleks isinya dan cukup luas ruang lingkupnya sehingga dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang cukup memadai bagi setiap kelompok.Materi hendaknya membutuhkan bahan dan informasi dari berbagai sumber untuk pemecahannya.Masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan membaca satu sumber saja tentu tidak cocok untuk ditangani melaluikerja kelompok.Kelompok dapat dibentuk berdasarkan perbedaan individual dalam kemampuan belajar, perbedaan bakat dan minat belajar, jenis kegiatan, materi pelajaran, dan tujuan yang ingin dicapai. Berdasarkan tugas yang harus diselesaikan, siswa dapat dibagi atas kelompok paralel yaitu setiap kelompok menyelesaikan tugas yang sama, dan kelompok komplementer  dimana setiap kelompok berbeda-beda tugas yang harus diselesaikan.Metode belajar kelompok yang digunakan dalam suatu strategi pembelajaran bertujuan untuk:
1.      Memecahkan masalah pembelajaran melalui proses kelompok.
2.      Mengembangkan kemampuan bekerja sama di dalam kelompok.
a.      Alasan Penggunaan Metode Kerja Kelompok
1.      Kerja kelompok dapat mengembangkan perilaku gotong royong dan demokratis.
2.      Kerja kelompok dapat memacu siswa aktif belajar.
3.      Kerja kelompok tidak membosankan siswa melakukan kegiatan belajar diluar kelas bahkan diluar sekolah yang bervariasi, seperti observasi, wawancara, cari buku di perpustakaan umum dan sebagainya.
b.      Kekuatan Metode Kerja Kelompok
1.      Membiasakan siswa bekerja sama, musyawarah dan bertanggung jawab.
2.      Menimbulkan kompetisi yang sehat antar kelompok, sehingga membangkitkan kemauan belajar yang sungguh-sungguh.
3.      Guru dipermudah tugasnya karena tugas kerja kelompok cukup disampaikan kepada para ketua kelompok.
4.      Ketua kelompok dilatih menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, dan anggotanya dibiasakan patuh pada aturan yang ada.

c.       Kelemahan Metode Kerja Kelompok
1.      Sulit membentuk kelompok yang homogen baik segi minat, bakat, prestasi maupun Intelegensi.
2.      Pemimpin kelompok sering sukar untuk memberikan pengertian kepada anggota, menjelaskan, dan pembagian kerja.
3.      Anggota kadang-kadang tidak mematuhi tugas-tugas yang diberikan pemimpin kelompok.
4.      Dalam menyelesaikan tugas, sering menyimpang dari rencana karena kurang kontrol dari pemimpin kelompok atau guru.
5.      Sulit membuat tugas yang sama sulit dan luasnya terutama bagi kerja kelompok yang komplementer.
d.      Cara Mengatasi Kelemahan Metode kerja Kelompok
1.       Mengkaji lebih dulu materi pelajaran dengan cermat, lalu buat garis besar rincian tugasnya untuk setiap kelompok agar bobot tugas tersebut sama beratnya.
2.       Adakan tes sosiometri dan hasilnya digunakan untuk pembentukan kelompok yang mereka kehendaki.
3.       Bimbingan dan pengawasan kepada setiap kelompok harus dilakukan terus menerus.
4.       Jumlah anggota dalam satu kelompok jangan terlalu banyak.
5.       Motivasi yang diberikan jangan sampai menimbulkan persaingan antar kelompok yang kurang sehat.
e.      Langkah-langkah Pembelajaran dengan Metode Kerja Kelompok
Kegiatan Persiapan.
1.      Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
2.      Menyiapkan materi pembelajaran an menjabarkan materi tersebut kedalam tugas-tugas kelompok.
3.      Mengidentifikasi sumber-sumber yang akan menjadi dasar kegiatan kerja kelompok.
4.      Menyusun peraturan pembentukan kelompok, cara kerja, saat memulai dan mengakhiri, dan tata tertib lainnya.
Kegiatan Pelaksanaan
Kegiatan Membuka Pelajaran
a.      Melaksanakan Apersepsi, yaitu pertanyaan tentang materi pelajaran sebelumnya.
b.      Memotivasi belajar dengan mengemukakan kasus yang ada kaitannya dengan materi pelajaran yang akan diajarkan.
c.       Mengemukakan tujuan pelajaran dan berbagai kegiatan yang akan dikerjakan dalam mencapai tujuan pelajaran itu.
Kegiatan Inti Pelajaran
a.      Mengemukakan lingkup materi pelajaran yang akan dipelajari.
b.      Membentuk kelompok.
c.       Mengemukakan tugas setiap kelompok kepada ketua kelompok atau langsung kepada semua siswa.
d.      Mengemukakan peraturan dan tata tertib serta saat memulai dan mengakhiri kegiatan kerja kelompok.
e.      Mengawasi, memonitor, dan bertindak sebagai fasilitator selama siswa melakukan kerja kelompok.
f.        Pertemuan klasikal untuk pelaporan hasil kerja kelompok, pemberian balikan dari kelompok lain atau dari guru.
Kegiatan Mengakhiri Pelajaran
a.      Meminta siswa merangkum isi pelajaran yang telah dikaji melalui kerja kelompok.
b.      Melakukan evaluasi hasil dan proses.
c.       Melaksanakan tindak lanjut baik berupa mengajari ulang materi yang belum dikuasai siswa maupun memberi tugas pengayaan bagi siswa yang telah menguasai materi tersebut.
Latihan  1
Karena alasan apa anda memilih metode kerja kelompok dalam pembelajaran?
2.  Metode Karya Wisata
a.      Pengertian dan Tujuan
Sagala (2006) menyatakan bahwa karya wisata atau studi wisata sebagai metode pembelajaran adalah siswa dibawah bimbingan guru mengunjungi tempat-tempat tertentu dengan maksud untuk mempelajari obyek belajar yang ada di tempat itu.
Lalu, apa perbedaannya dengan tamasya? Tamasya berbeda dengan karya wisata dalam hal bahwa bepergian orang ke suatu tempat itu dengan maksud untuk mencari hiburan.
Rusyan (dalam Sagala, 2006) menyatakan walaupun karya wisata banyak unsur nonakademisnya, tetapi tujuan pendidikan dapat pula tercapai terutama mengenai wawasan dan pengalaman tentang dunia luar seperti tempat yang memiliki situs bersejarah, musium, peternakan, atau pertanian (argo wisata), dan sebagainya. Tetapi kalau karya wisata itu sengaja disiapkan sebagai metode pembelajaran maka unsur akademiknya harus menonjol. Tujuan pembelajaran harus dirumuskan secara jelas, materi pembelajaran yang akan dipelajari harus ditulis berupa tugas yang harus diperoleh melalui observasi atau wawancara dengan nara sumber yang ada ditempat wisata itu, dan ketika akan kembali atau setelah sampai di sekolah guru harus mengevaluasi hasil belajar yang baru mereka kerjakan melalui karya wisata itu. Dengan demikian tujuan karya wisata sebagai metode pembelajaran adalah untuk:
1.         Mengkaji materi pembelajaran tertentu sebagaimana direncanakan dalam kurikulum/silabus. Misalnya untuk mempelajari cara beternak sapi perah dan pengolahan susunya, maka siswa diajak berkarya wisata e peternakan sapi perah.
2.         Melengkapi materi pelajaran yang tertulis di buku tanah, ai, dan penghargaan terhadap pahlawan serta pemimpin yang berjasa dimasa silam.
3.         Memupuk rasa cinta lingkungan, daerah, tanah air, dan penghargaan terhadap pahlawan serta pemimpin yang berjasa dimasa lalu.
b.      Alasan Penggunaan Metode karya Wisata
1.      Memvariasikan penggunaan metode pembelajaran agar siswa termotivasi belajar.
2.      Dengan karya wisata siswa berkembang rasa kebersamaannya, tanggung jawabnya, kerja samanya dan toleransinya.
3.      Penguasaan materi yang dipelajariakan lebih cepat dikuasai dan lama diingat.
4.      Karena keunggulan dan tujuan karya wisata sebagai metode pembelajaran sebagaimana dikemukakan alam naskah ini.
c.       Keunggulan Metode Karya Wisata
1.      siswa dapat belajar langsung di lapangan sehingga pengetahuan yang diperoleh nyata, hidup, bermakna dan komprehensif.
2.      Siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari masalah atau pertanyaan tentang materi yang dipelajari dengan melihat, mendengar, mencoba dan membuktikan sendiri secara langsung.
3.      Motivasi dan minat belajar siswa tinggi. Siswa senang belajar melalui karya wisata.
4.      Guru diperingan tugasnya dalam menyampaikan materi pelajaran, karena materi disampaikan oleh nara sumber atau observasi langsung oleh siswa sendiri.
5.      Siswa aktif belajar melalui observasi, wawancara, percobaan, menggolong-golongkan dan sebagainya.
d.      Kelemahan
1.      Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak.
2.      Memerlukan waktu yang cukup lama, apalagi kalau dilaksanakan terlalu sering dan jauh dari sekolah, sehingga dapat mengganggu jadwal pelajaran.
3.      Memerlukan biaya yang relatif tinggi.
4.      Memerlukan pengawasan yang ketat agar siswa fokus kepada tugasnya.
5.      Laporan hasil karya wisata biasanya diserahkan tidak tepat waktu.
e.      Cara Mengatasi Kelemahan Metode Karya Wisata
1.      Rumuskan tujuan secara jelas dan konkrit.
2.      Tentukan secara jelas tugas-tugas yang harus dilakukan sewaktu karya wisata dan sesudah karya wisata.
3.      Bentuk panitia pelaksanaan karya wisata yang bertugas menyiapkan semua hal yang berkaitan dengan pelaksanaan karya wisata.
4.      Pilih waktu libur untuk pelaksanaan karya wisata.
5.      Rencanakan pembiayaan jauh sebelum karya wisata itu dilaksanakan. Bila mungkin masukkan rencana pembiayaan itu dalam DUK (Daftar Usulan Kegiatan) anggaran sekolah.
6.      Buat tat tertib pelaksanaan karya wisata secara jelas dan dikomunikasikan secepatnya kepada siswa.
f.        Langkah- langkah Pelaksanaan Metode Karya Wisata
Kegiatan Persiapan
1.      Merumuskan tujuan pembelajaran.
2.      Menyiapkan materi pelajaran yang sesuai silabus/kurikulum yang  ada.
3.      Melakukan studi awal ke lokasi sasaran karya wisata.
4.      Menyiapkan scenario pelaksanaan karya wisata.
5.      Menyiapkan tat tertib pelaksanaan karya wisata.
Kegiatan Pelaksanaan Karya Wisata
Kegiatan Pembukaan
Kegiatan pembukaan ini dilaksanakan disekolah sebelum berangkat ke lokasi karya wisata sebelum turun ke lapangan. Kegiatan pembukaan ini meliputi:
a.      Meningkatnya kembali pelajaran yang pernah diberikan melalui Apersepsi.
b.      Memotivasi siswa dengan membuat kaitan materi pelajaran yang akan dipelajari dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat atau melalui pertanyaan-pertanyaan.
c.       Mengemukakan tujuan pelajaran yang akan dipelajari dan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan pelajaran tersebut selama karya wisata.
d.      Mengemukakan tata tertib selama karya wisata.
Kegiatan Inti
Kegiatan inti pelajaran ini dilakukan selama karya wisata:
a.      Melakukan observasi terhadap obyek sasaran belajar, lalu mendiskripsikannya dalam
bentuk kalimat, mengambil gambarnya, dan sebagainya.
b.      Mewawancarai nara sumber dan mencatat informasi yang disampaikan secara lisan oleh nara sumber.
c.       Mengumpulkan leaflet atau booklet yang ada.
d.      Sesuai dengan scenario yang disiapkan guru, dapat diselenggarakan seminar atau diskusi dengan nara sumber, penguasa/pejabat yang relevan.
Kegiatan Penutup
Kegiatan mengakhiri karya wisata ini dapat  dilakukan ketika masih berada di lokasi wisata atau setelah kembali ke sekolah, kegiatannya meliputi:
a.      Menyuruh siswa melaporkan hasil karya wisata dan membuat rangkuman.
b.      Melakukan evaluasi proses dan hasil karya wisata.
c.       Melakukan tindak lanjut berupa tugas yang sifatnya memperkaya hasil karya wisata.
Latihan 2
Buatlah persiapan mengajar dengan menggunakan karya wisata sebagai metode pembelajarannya.
3.  Metode Penemuan (Discovery)
a.      Pengertian dan Tujuan
Apa yang dimaksud dengan metode penemuan (discovery)? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut perlu dipahami dengan jelas istilah yang saling dipertukarkan.Penemuan (discovery) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan penyelidikan (inquiry).
Sund (dalam Kartawisastra, 1980) berpendapat bahwa penemuan adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Sedangkan inquiry (inkuiri) menurut Sund meliputi juga penemuan. Dengan kata lain, inkuiri adalah perluasan proses penemuan yang digunakan lebih mendalam. Artinya proses inkuiri mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya: merumuskan masalah, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, menarik kesimpulan, dan sebagainya. Akhirnya Sund berpendapat bahwa penggunaan metode penemuan bak untuk siswa kelas rendah, sedangkan inkuiri baik untuk kelas tinggi.
Dengan demikian penemuan diartikan sebagai prosedur pembelajaran yang mementingkan pembelajaran perseorangan, manipulasi obyek, melakukan percobaan, sebelum sampai kepada  generalisasi. Metode penemuan mengutamakan cara belajar siswa aktif (CBSA) berorientasi pada proses, mengarahkan sendiri, mencari sendiri, dan reflektif.
Tujuan penggunaan metode penemuan antara lain:
1.      Untuk memperoleh metode pembelajaran yang sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
2.      Untuk mengaktifkan siswa belajar (CBSA) sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran.
3.      Untuk memvariasikan metode pembelajaran yang digunakan agar siswa tidak bosan.
4.      Agar siswa dapat menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, dan memecahkan sendiri masalah yang dipelajari, sehingga hasilnya setia dan tahan lama dalam ingatan, dan tidak mudah dilupakan.

b.      Alasan Penggunaan Metode Penemuan.
          1. Memungkinkan untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif.
          2. Pengetahuan yang ditemukan sendiri melalui metode penemuan akan betul-betul dikuasai, dan mudah digunakan/ditransfer dalam situasi lain
4.         Siswa dapat menguasai salah satu metode ilmiah yang sangat berguna dalam kehidupannya.
5.         Siswa dibiasakan berfikir analitis dan mencoba memecahkan masalah yang akandistransfer dalam kehidupan masyarakat.
c.       Kebaikan Metode Penemuan
1.      Siswa belajar bagaimana belajar melalui proses penemuan.
2.      Pengetahuan yang diperoleh melalui penemuan sangat kokoh.
3.      Metode penemuan membangkitkan gairah siswa dalam belajar.
4.      Metode penemuan memungkinkan siswa bergerak untuk maju sesuai dengan kemampuannya sendiri.
5.      Metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya sehingga ia merasa lebih terlibat dan termotivasi sendiri untuk belajar.
6.      Metode ini berpusat pada anak, dan guru sebagai teman belajar atau fasilitator.
d.      Kelemahan
1.      Metode ini mempersyaratkan kesiapan mental, dalam arti siswa yang pandai akan memonopoli penemuan dan siswa yang bodoh akan frustasi.
2.      Metode ini kurang berhasil untuk kelas besar karena habis waktu guru untuk membantu siswa dalam kegiatan penemuannya.
3.      Dalam pelajaran tertentu (misalnya IPA) fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide mungkin terbatas.
4.      Metode ini terlalu mementingkan untuk memperoleh pengertian, sebaliknya kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan keterampilan.
5.      Metode ini kurang memberi kesempatan untuk berfikir kreatif kalau pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi oleh guru, begitu pula proses-prosesnya dibawah pembinaannya.
e.      Cara Mengatasi Kelemahan Metode Penemuan
1.      Bentuklah kelompok-kelompok kecil, yang anggotanya terdiri dari siswa pandai dan siswa kurang pandai, agar siswa yang pandai bisa membimbing siswa yang kurang pandai. Dengan cara ini pula kelemahan kelas besar dalam penggunaan metode ini dapat diatasi.
2.      Metode penemuan untuk IPA dapat pula dilakukan di luar kelas sehingga tidak memerlukan fasilitas atau bahan yang umumnya mahal.
3.      Mulailah dengan penemuan terbimbing, kemudian jika siswa sudah terbiasa dengan metode ini maka gunakanlah metode penemuan bebas, agar siswa benar-benar dapat berkembang berfikir relatifnya.
f.        Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Penemuan
Kegiatan Persiapan
a.      Mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa (need assessment).
b.      Merumuskan tujuan pembelajaran.
c.       Menyiapkan problem (materi pelajaran yang akan dipecahkan).
d.      Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
Kegiatan Pelaksanaan
Kegiatan Pembukaan
a.      Melakukan Apersepsi.
b.      Memotivasi siswa dengan cerita situasi dilingkungan sekitarnya yang ada kaitannya dengan materi yang diajarkan.
c.       Mengemukakan kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Kegiatan Inti
a.      Mengemukakan problema yang akan dicari jawabannya melalui kegiatan penemuan.
b.      Diskusi pengarahan tentang cara pelaksanaan penemuan/pemecahan problema yang telah ditetapkan.
c.       Pelaksanaan penemuan berupa kegiatan penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep atau prinsip yang telah ditetapkan.
d.      Membantu siswa dengan informasi atau data, jika diperlukan siswa.
e.      Membantu siswa melakukan analisis data hasil temuan, jika diperlukan.
f.        Merangsang terjadinya interaksi antar siswa dengan siswa.
g.      Memuji siswa yang giat dalam melaksanakan penemuan.
h.      Memberi kesempatan siswa melaporkan hasil penemuannya.
Kegiatan Penutup
a.      Meminta siswa membuat rangkuman hasil-hasil penemuannya.
b.      Melakukan evaluasi hasil dan proses penemuan.
c.       Melakukan tindak lanjut, yaitu meminta siswa melakukan penemuan ulang jika ia belum menguasai materi, dan meminta siswa mengerjakan tugas pengayaan bagi siswa yang telah melakukan penemuan dengan baik.
Latihan
Jelaskan pengertian dan kelebihan metode penemuan!
4.  Metode Pembelajaran Unit
a.      Pengertian dan Tujuan.
Taredja, dkk. (1980), dan Sumantri dan Permana (2006) menyatakan bahwa metode pengajaran unit adalah suatu cara pembelajaran dimana siswa dan guru mengarahkan segala kegiatannya pada pemecahan suatu masalah yang dipelajari melalui berbagai segi yang berhubungan, sehingga pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna. Pengajaran unit ini sekarang dinamakan pembelajaran terpadu.
Menurut Sumantri dan Permana (1998/1999) terdapat beberapa jenis keterpaduan dalam pembelajaran terpadu: (1) keterpaduan antara dua atau lebih masalah, konsep, keterampilan, tugas, atau ide-ide lain dalam satu bidang studi, (2) keterpaduan beberapa topik atau sub tema dalam berbagai bidang studi (model jaring laba-laba/webbed model) dan  (3) lintas bidang studi yaitu pemecahan masalah yang melibatkan adanya prioritas kurikuler dan menemukan pengetahuan atau konsep, keterampilan dan sikap yang tumpang tindih dari beberapa bidang studi.Sumantri dan Permana (1998/1999) mengemukakan tujuan metode pembelajaran unit sebagai berikut:
1.      Melatih siswa berfikir komprehensif dengan cara mengkaji dan memecahkan masalah dari berbagai disiplin ilmu atau aspek.
2.      Melatih siswa menggunakan keterampilan proses atau metode ilmiah dalam pemecahan masalah.
3.      Membentuk sikap kritis, kerjasama, rasa ingin tahu, menghargai waktu dan menghargai pendapat orang lain.
4.      Melatih siswa agar memiliki kemampuan merencanakan, mengorganisasikan dan memimpin suatu kegiatan.
5.      Mengembangkan keterampilan berkomunikasi.
b.      Alasan Penggunaan Metode Pembelajaran Unit
1.      Dalam kurikulum terdapat keterkaitan antara satu topik lain, atau antara bidang studi satu dengan bidang studi lainnya dalam suatu pemecahan masalah, sehingga perlu ada satu metode yang dapat menciptakan kesatuannya.
2.      Dapat memberikan pengalaman belajar tentang pemecahan masalah dari berbagai disiplin ilmu.
3.      Dapat melibatkan peserta didik secara fisik maupun psikis dalam kegiatan pembelajaran.
c.       Kekuatan Metode Pembelajaran Unit
1.      Siswa dapat belajar secara keseluruhan (utuh). Semua atau beberapa mata pelajaran dipadu jadi satu dalam satu masalah. Dengan demikian ilmu-ilmu yang ada dihayati secara utuh.
2.      Pelajaran menjadi lebih berarti. Kalau pada pelajaran tradisional semua siswa harus melakukan apa yang diajarkan seperti apa adanya, maka dalam pembelajaran terpadu, siswa belajar sesuai minat, bakat dan tingkat perkembangannya. Karena itu siswa belajar lebih bermakna.
3.      Situasi kelas lebih demokratis. Hal ini dimungkinkan karena prinsip dari pembelajaran terpadu adalah perencanaan bersama, dilaksanakan oleh siswa, guru hanya sebagai pembimbing. Karena itu suasana belajar menjadi lebih demokratis.
4.      Digunakannya asas-asas didaktik secara lebih wajar. Asas-asas didaktik seperti peragaan, minat, kerja kelompok, kerjasama, kerja sendiri, dan sebagainya benar-benar dimanfaatkan.
5.      Digunakannya prinsip-prinsip psikologi belajar modern, seperti minat anak berhubungan pengalamannya, anak mempersepsi lingkungannya secara keseluruhan tidak terpisah-pisah, anak yang sehat selalu aktif bergerak melakukan sesuatu, dan siswa SD perkembangan kognitifnya masih ada pada phase operasional konkrit. Dalam pembelajaran terpadu ini semua diakomodasikan.
d.      Kelemahan
1.      Memilih pokok masalah yang akan dijadikan unit bukan suatu pekerjaan yang mudah.
2.      Melaksanakan pembelajaran unit menuntut kecakapan tersendiri, sedangkan guru belum semuanya mampu menyelenggarakannya.
3.      Memerlukan ketekunan, pekerjaan dan waktu yang lebih banyak.
4.      Karena melibatkan banyak siswa maka dimungkinkan memerlukan biaya yang lebih banyak.
e.      Cara Mengatasi Kelemahan Metode Pembelajaran Unit
1.      Kesulitan dalam memilih pokok masalah dapat diatasi dengan cara membentuk tim atau panitia. Melalui rapat tim atau panitia yang terdiri dari beberapa guru dapat dirumuskan masalah yang hangat dan relevan dengan kurikulum dan tingkat perkembangan siswa.
2.      Kesulitan guru karena dalam pembelajaran unit diperlukan banyak waktu yang luang dan dilaksanakan secara block waktu (tak ada kegiatan lain selain pembelajaran unit).
3.      Masalah biaya dapat diatasi dengan memasukkan biaya pembelajaran unit ke DUK sekolah atau sumber lain yang halal.
4.      Masalah kedangkalan pelajaran dapat diatasi dengan perencanaan yang matang jangan asal-asalan saja.
f.        Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Pembelajaran Unit
Kegiatan Persiapan
a.      Menjelaskan kepada siswa  cara melaksanakan pembelajaran dengan metode unit.
b.      Guru bersama siswa menetapkan pokok masalah yang akan dijadikan unit. Pokok masalah itu hendaknya sesuai dengan minat dan latar belakang siswa, sesuai dengan kurikulum dan kebutuhan siswa, dan sesuai dengan ketersediaan sumber baik buku, para ahli maupun instansi.
c.       Guru dan siswa menetapkan aspek-aspek pokok masalah dan mata pelajaran-mata pelajaran yang ikut serta pada pemecahan pokok masalah tersebut.
d.      Guru bersama siswa menetapkan tujuan yang akan dicapai.
e.      Guru dan siswa menetapkan kelompok-kelompok kerja dan tugas-tugasnya. Biasanya jumlah kelompok disesuaikan dengan banyaknya aspek masalah/unit.
f.        Guru dan siswa menetapkan organisasi kelas: ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, seksi-seksi, dan sebagainya. Organisasi ini yang akan mengelola penyelesaian kegiatan unit.
g.      Guru dan siswa menetapkan jadwal kegiatan, sasaran, target dan tata tertib yang harus dipatuhi selama pembelajaran unit ini.
kegiatan Pelaksanaan
kegiatan Persiapan
a.      guru menanyakan materi pelajaran sebelumnya.
b.      Guru berceritera tentang kehidupan di masyarakat yang berkaitan dengan materi pelajaran yang akan diajarkan melalui pembelajaran unit.
c.       Guru mengingatkan kembali tentang TIK yang telah dirumuskan dan bagaimana penyelesaiannya oleh kelompok.
Kegiatan Inti
a.      Para siswa mengatur tempat mereka belajar/bekerja, apakah tempat belajar itu didalam kelas maupun di luar kelas.
b.      Mempelajari sesuatu sesuai dengan tugas masing-masing, misalnya: melakukan percobaan-percobaan, mengerjakan soal-soal, menggambar, mempelajari nyanyian, mengunjungi tempat-tempat yang telah direncanakan, mengikuti ceramah dari nara sumber, dan sebagainya.
c.       Dalam rangka penyelesaian tugas, siswa mengadakan diskusi, mengatur bahan, dan berkomunikasi dengan kelompok lain.
d.      Menyiapkan laporan kelompok untuk disajikan pada laporan kelompok sewaktu diadakan Pleno.
e.      Laporan kelompok yaitu laporan lisan dan tertulis yang dilakukan oleh setiap kelompok dalam sidang Pleno, sehingga semua siswa dapat belajardari kelompok lain.
f.        Pameran. Setelah laporan kelompok selesai, kegiatan berikutnya adalah melakukan pameran. Yang dipamerkan adalah semua yang telah dihasilkan oleh kelompok.

Kegiatan Penutup
a.      Guru meminta siswa merangkum hasil belajar melalui kegiatan dalam metode pembelajaran unit.
b.      Melakukan evaluasi hasil belajar dan evaluasi proses pelaksanaan pembelajaran melalui metode pembelajaran unit.
c.       Tindak lanjut, yaitu menjelaskan kembali materi pelajaran yang belum dikuasai siswa dan menugasi untuk memperdalam penguasaan materi pelajaran melalui penugasan rumah (PR).

5.  Metode Pengajaran dengan Modul
a.      Pengertian dan Tujuan.
Russel (dalam Mainuddin dan Gunawan, 1980) menyatakan bahwa modul adalah suatu paket pembelajaran yang membicarakan satu satuan konsep tunggal mata pelajaran. Hal ini dalam usaha untuk mengindividualisasikan belajar dengan memberi kemampuan siswa menguasai satu unit isi sebelum pindah ke unit yang lain.Metode pembelajaran dengan modul merupakan salah satu bentuk dari bentu-bentuk belajar mandiri.  Russel (dalam Mainuddin dan Gunawan, 1980) mengemukakan 8 karakteristik umum modul, yaitu:
1.      Self contained, atau self instructional packages. Modul itu merupakan satuan paket bahan pelajaran yang lengkap untuk belajar sendiri.
2.      Memperhitungkan perbedaan individu. Siswa bebas menentukan sendiri proses belajarnya.
3.      Tujuan pembelajaran dirumuskan secara eksplisit dan spesifik dalam perumusan tingkah laku yang bisa diukur.
4.      Adanya asosiasi, struktur dan urutan yang disajikan. Ide-ide dasar disajikan lebih dulu.
5.      Pemakaian bermacam-macam media.
6.      Partisipasi aktif siswa. Siswa belajar sendiri dari modul.
7.      Reinforcement langsung. Dalam modul, reinforcement segera didapat  setelah siswa menunjukkan responyang disetujui.

Metode pembelajaran dengan modul bertujuan:
1.      Agar siswa aktif belajar mandiri.
2.      Agar siswa terbiasa mengontrol kecepatan dan mengevaluasi belajarnya sendiri.
3.      Memberi reinforcement secepatnya setelah siswa selesai mengerjakan materi modul dengan memperbolehkan pindah ke modul berikutnya. Penguatan ini memotivasi siswa untuk mengulang kembali perbuatan belajarnya yang baik itu.
4.      Melatih disiplin, taat peraturan dan petunjuk yang ada, serta melatih kebiasaan mengoreksi diri sendiri dan kejujuran.
b.      Alasan Penggunaan Metode Pembelajaran dengan Modul
1.      Siswa dapat belajar lebih aktif dan mandiri (CBSA).
2.      Siswa dapat menyesuaikan diri dengan keunikan cara belajarnya masing-masing.
3.      Siswa dapat berkembang secara optimal sesuai dengan perbedaan kemampuan, potensi dan kecepatan belajar masing-masing.
4.      Dimungkinkan untuk mendukung modul digunakan multi media, seperti: audio visual, internet, web, dan sebagainya sehingga perbedaan-perbedaan dan keunikan individu dapat diakomodasi.
5.      Dengan metode pembelajaran dengan modul mutu proses pembelajaran dapat ditingkatkan.
6.      Dapat mengatasi kekurangan guru, dan mengatasi persoalan jauhnya tempat tinggal siswa dari kampus.
c.       Kekuatan Metode Pembelajaran dengan Modul
1.      Ratio guru dan siswa dapat ditingkatkan menjadi sekitar 1 : 200, padahal dengan sistem biasa ratio tersebut adalah 1 : 40.
2.      Siswa aktif belajar secara mandiri.
3.      Meningkatkan kualitas hasil belajar, karena siswa yang belum mencapai mastery learning 80% harus mengkaji ulang materi modul dan tes.
4.      Siswa termotivasi untuk belajar dengan sungguh-sungguh untuk segera menyelesaikan modul yang ditargetkan.
d.      kelemahan
1.      Ikatan kelas renggang, belajar bersama berkurang, padahal motivasi belajar dipengaruhi pula oleh kebersamaan.
2.      Aspek estetis dan etis kurang diperhatikan.
3.      Kesulitan dalam menulis modul. Modul yang baik menuntut keahlian, keterampilan dan pengalaman.
4.      Pembelajaran dengan modul umumnya kurang memperhatikan aspek perasaan. Manusia dianggap sebagai mesin yang reaktif terhadap stimulus (modul) yang disajikan padanya.
5.      Cenderung untuk membuat materi yang banyak dalam modul, sehingga memberatkan siswa.
6.      Modul menuntut siswa pintar membaca dengan pemahaman, hal ini menjadi hambatan bagi siswa yang kurang terampil membaca.
e.      Cara Mengatasi Kelemahan Metode Pembelajaran dengan Modul
1.      Perlu dibuat modul yang penguasaanya dilakukan melalui diskusi atau kerja kelompok.
2.      Modul harus disusun oleh orang yang selain ahli dibidang mata kuliah juga berpengalaman dalam menulis modul.
3.      Materi harus disusun berdasarkan kompetensi yang ingin dicapai yang telah dirumuskan dalam silabus mata kuliah.
4.      Bahasa yang digunakan hendaknya bahasa baku, yaitu Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Di samping itu tingkat kesukaran bahasa perlu disesuaikan dengan umur dan pengetahuan siswa.
f.        Langkah-langkah Pembelajaran dengan Modul
Kegiatan Persiapan
a.      Guru menyiapkan modul yang akan dipelajari oleh siswa dan berbagai media pendukungnya.
b.      Guru membaca modul yang akan diajarkan agar isi modul dikuasai sehingga kalau nanti ada siswa bertanya dapat memberi penjelasan. Disamping itu guru juga perlu menyiapkan pertanyaan Apersepsi.
Kegiatan Pelaksanaan
Kegiatan Pembukaan
a.      Guru menanyakan isi materi modul yang telah diselesaikan (Apersepsi).
b.      Membangkitkan motivasi belajar siswa.
c.       Membacakan tujuan pembelajaran yang ada dalam modul, begitu pula halnya dengan petunjuk cara pengerjaan modul.
Kegiatan Inti
a.      Guru meminta siswa menyiapkan dan mempelajari modul.
b.      Guru mengawasi kegiatan belajar siswa.
c.       Guru sebagai fasilitator membantu siswa memecahkan kesulitan belajar, pengarah diskusi (jika diperlukan), dan sebagainya.
d.      Menentukan langkah selanjutnya setelah siswa menyelesaikan modulnya, misalnya memberi modul pengayaan bagi siswa yang telah mencapai belajar tuntas 80%, dan mem
e.      inta siswa mempelajari lagi modul jika hasil tes formatif kurang dari 80%.
Kegiatan Penutup
a.      Siswa membuat rangkuman pokok-pokok materi yang dipelajari dari modul.
b.      Evaluasi telah dilaksanakan sewaktu mempelajari modul. Karena itu guru tidak melakukan evaluasi lagi.
c.       Tindak lanjut, berupa PR atau membuat rangkuman dari buku yang dibacanya.
                                                   





BABIII
PENDEKATAN DAN MODEL PEMBELAJARAN
A.  Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/ CTL)
      1.  Pengertian
CTL adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk membantu siswa memahami makna yang ada pada bahan ajar yang mereka pelajari dengan menghubungkan pelajaran dalam konteks kehidupan sehari-harinya dengan konteks kehidupan pribadi, sosial dan kultural. Untuk mencapai tujuan ini, sistem ini mencakup 8 komponen: membuat hubungan yang bermakna, melahirkan kegiatan yang signifikan, belajar sendiri dengan teratur, kolaborasi, berfikir kritis dan kreatif, mencapai standar tinggi, dan menggunakan penilaian otentik (Johnson, 2003).
Contextual Teaching and Learning adalah suatu konsep mengajar dan belajar yang membantu guru menghubungkan kegiatan dan bahan ajar mata pelajarannya dengan situasi nyata yang dapat memotivasi siswa untuk dapat menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari siswa sebagai anggota keluarga bahkan sebagai anggota masyarakat dimana dia hidup (US Department of Education, 2001).
Contextual Teaching and Learning adalah pembelajaran yang situasi an isinya khusus dan memberi kesempatan siswa dapat melakukan pemecahan masalah, latihan dan tugas secara riil dan otentik.(Universitas Negeri Malang).
      2. Penerapan Dalam Pembelajaran
Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedangdipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual siswa dan peran guru.Sehubungan dengan itu maka pendekatan pengajaran kontekstual menekankan pada hal-hal sebagaiberikut:
a.      Belajar berbasis masalah (Problem-Based Learning), yaitu suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Dalam hal ini siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang mengintegrasikan ketrampilan dan konsep dari berbagai isi materi pelajaran. Pendekatan ini mencakup pengumpulan informasi yang berkaitan dengan pertanyaan, mensintesa, dan mempresentasikan penemuannya kepada orang lain. (Moffat, 2001 dalam Depdiknas, 2002).
b.      Pengajaran autentik (Authentic Instruction), yaitu pendekatan pengajran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna. Ia mengembangkan ketrampilan berfikir dan pemecahan masalah yang penting di dalam konteks kehidupan nyata.
c.       Belajar berbasis inquiri (Inquiry-Based Learning), yang membutuhkan strategi pengajaran yang mengikuti metodologi sains yang menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
d.      Belajr berbasis proyek/tugas terstruktur (Project-Based Learning). Yang membutuhkan suatu pendekatan pengajaran komprehensif dimana lingkungan belajar siswa (kelas) desain agar siswa melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkonstruk (membentuk) pembelajarannya, dan mengkulminasikannya dalam produk nyata (Buck Institute for Education, 2001 dalam Depdiknas, 2002).
e.      Belajar berbasis kerja (Work-Based Learning) yang memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali di dalam tempat kerja. Jadi dalam hal ini tempat kerja atau sejenisnya dan berbagai aktivitas dipadukan dengan materi pelajran untuk kepentingan siswa.
f.        Belajar jasa-layanan (Service Learning), yang memerlukan penggunaan metodologi pengajaran yang mengkombinasikan jasa-layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan jasa-layanan tersebut. Dengan demikian pendekatan ini menekankan hubungan antara pengalaman jasa-layanan dan pembelajaran akademis. Dengan kata lain pendekatan ini menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagi ketrampilan untuk memenuhi kebutuhan di dalam masyarakat melalui proyek/tugas terstruktur dan kegiatan lainnya (Mc. Pherson, 2001 dalam Depdiknas, 2002).
g.      Belajar kooperatif (Cooperatif Learning), yang memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajr dalam mencapai tujuan belajar.
Penilaian otentik
Refleksi
Pemodelan
Komunitas Belajar
Inkuiri
Bertanya
Kontruktivis
CTL
 








       2.  Ciri-ciri Contextual Teaching and Learning (CTL)
·         Bermakna
·         Hubungan kelas dengan dunia nyata
·         Berfikir tingkat tinggi, pengembangan
·         Kritis, kreatif
·         Inkuiri, bertanya
·         Komunikasi, kolaborasi
·         Penilaian otentik
·         Refleksi
·         Model
·         Masyarakat belajar
2.  Pembelajaran Aktif, Kreatif, Afektif dan Menyenangkan (PAKEM)
Pembelajaran Aktif, Kreatif, Afektif dan Menyenangkan (PAKEM/joyful Learning) meliputi:
1.      Multi Metode, Multi Media
2.      Praktek dan Bekerja dalam Tim
3.      Memanfaatkan Lingkungan Sekitar
4.      Di Dalam dan di Luar Kelas
5.      Multi Aspek (logika, praktika, etika).                                                            
Pembelajaran Aktif, Kreatif, Afektif dan Menyenangkan (PAKEM) adalah model pembelajaran yang beranggapan bahwa belajar merupakan proses aktif membangun makna/pemahaman dari informasi dan pengalaman si pembelajar. Menurut Siswono (2004), PAKEM bertujuan untuk menciptakan suatu lingkungan belajar yang lebih melengkapi peserta didik dengan keterampilan-keterampilan, pengetahuan dan sikap bagi kehidupan kelak. PAKEM dapat ditinjau dari segi guru maupun siswa.
Aktifdiartikan siswa maupun guru berinteraksi untuk menunjang pembelajaran. Guru mampu menciptakan suasana yang meningkatkan keaktifan siswa untuk bertanya, memberikan tanggapan, mengungkapkan ide, atau mendemonstrasikan gagasan/idenya.Guru aktif memantau kegiatan belajar peserta didik, memberi umpan balik, mengajukan pertanyaan yang menantang dan mempertanyakan gagasan siswa. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif akan mendorong kreativitas siswa bak dalam belajar maupun memecahkan masalah.
Kreatifdiartikan guru memberikan variasi dalam kegiatan belajar mengajar dan membuat alat bantu belajar. Guru dapat menciptakan teknik-teknik mengajar tertentu sesuai dengan karakteristik siswa dan karakteristik materi pembelajaran. Siswa akan kreatif bila diberi kesempatan merancang/membuat sesuatu, menuliskan ide atau gagasan.
Efektifyang diartikan ketercapaian suatu tujuan (kompetensi) merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. Pembelajaran yang tampaknya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif akan tampak hanya sekedar permainan belaka.
Menyenangkandiartikan sebagai suasana belajar mengajar yang “hidup”, semarak, terkondisi untuk terus berlanjut, ekspresif, dan mendorong pemusatan perhatian siswa terhadap belajar.Agar dapat menyenangkan maka diperlukan afirmasi (penguatan/penegasan), memberi pengakuan dan merayakan kerja keras siswa.Perayaan dapat diwujudkan dalam bentuk tepuk tangan, poster umum, catatan pribadi atau saling menghargai. Kegiatan belajar yang aktif, kreatif dan menyenangkan harus tetap bersandar pada tujuan atau kompetensi yang akan dicapai.
Kurikulum Dan Perangkatnya
Sarana dan Prasarana
Standarisasi mutu pendidikan secara berkelanjutan menghadapi tuntutan lokal, nasional dan internasional
SDM
Manajemen
·         Pakem
·         Pembelajaran yang mengarah pas
·         Penilaian berkelanjutan
Komponen Utama dalam PAKEM :






C.  Model pembelajaran.       
Model pembelajaran trdiri atas dua macam yakni: model pembelajaran langsung (direct instruction)  dan model pembelajaran kooperatif (cooferative learning).
1.      Model Pengajaran Langsung (Direct Instruction)
a.      Pengertian pembelajaran langsung
Model pengajaran langsung dirancang agar siswa dapat mempelajari pengetahuan deklaratif maupun pengetahuan prosedural secara terstruktur dan bertahap.Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Pengajaran langsung merupakan model yang berpusat pada guru yang menekankan (menggunakan) penjelasan guru dan pemodelan yang dikombinasikan dengan praktek (latihan) dan umpan balik untuk mengajarkan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan.
b.      Langkah- langkah Pengajaran Langsung
1.      Pengajaran beriorentasi pada guru
2.      Ceramah
3.      Pertanyaan-pertanyaan
4.      Praktek/latihan
5.      Demonstrasi, dll.
c.  Fase-fase Direct Instruction
1.      Menyampaikan tujuan
2.      Menyampaikan informasi/ Demonstrasi
3.      Menyediakan latihan
4.      Mengevaluasi/ Refleksi
5.      Latihan mandiri
2.      Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
·         Positive Interdependence
·         Face to face interaction
·         Individual accountability
·         Collaborative skill/ Social skill
·         Group processing
a.      Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Slavin (1997:284) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk bekerja sama dalam suatu kelompok kecil. Siswa saling membantu dalam rangka mencapai tujuan belajar.
Sedangkan Johnson (1994:4) menyatakan bahwa kooperatif berarti bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan. Dalam situasi belajar kooperatif terdapat saling ketergantungan positif diantara siswa.Siswa mempunyai tanggung jawab terhadap pencapaian tujuan berupa penguasaan materi baik untuk dirinya sendiri maupun untuk teman dalam kelompoknya.
Pembelajaran kooperatif menekankan interaksi dan kerja sama tim. Tidak hanya satu orang anggota kelompok yang dianggap pandai saja yang menyelesaikan tugas sementara anggota lain diam menunggu, atau siswa duduk secara berkelompok tetapi masing-masing mengerjakan tugas secara individu. Seringkali siswa akan lebih muda menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila didiskusikan dengan teman mereka.
Dalam pembelajaran kooperatif siswa akan terlatih untuk mendengarkan pendapat-pendapat orang lain dan merangkum pendapat-pendapat tersebut dalam bentuk tulisan. Tugas-tugas kelompok akan memacu siswa untuk bekerja sama, saling membantu dalam mengintegrasikan pengetahuan-pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Untuk lebih jelas perhatikan gambar di bawah ini.

 












b.      Beberapa Tipe Model Pembelajaran Kooperatif
Ada berbagai tipe model pembelajaran kooperatif, antara lain: Student Teams Achievement Division (STAD), Jigsaw, Teams Games Tournaments (TGT), Think-Pair Share (TPS), Numbered Heads Together (NHT).
a.      Student Teams Achievement Division (STAD)tim siswa kelompok prestasi.
Model pembelajaran kooperatif, Tipe Student Teams Achievement Division (STAD), dikembangkan oleh Robert Slavin (1995).
Langkah-langkah Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD):
1.      Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll).
2.      Guru menyajikan pelajaran.
3.      Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota dalam kelompok itu mengerti.
4.      Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
5.      Memberi evaluasi.
6.      Kesimpulan.
b. Jigsaw(Model Tim Ahli)
Langkah-langkah pembelajaran tipe jigsaw:
1.      Siswa dikelompokkan ke dalam = 4 anggota tim.
2.      Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda.
3.      Tiap orang dalam tim  diberi bagian materi yang ditugaskan.
4.      Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka.
5.      Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
6.      Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi.
7.      Guru memberi evaluasi.
8.      Penutup.
c.  Think Pair Share
Tipe ini digunakan untuk mengajarkan pengetahuan akademik dan memeriksa pemahaman siswa tentang pengetahuan tersebut.Tipe ini dirancang untuk memberi kesempatan kepada siswa berfikir sejenak tentang suatu topik atau pertanyaan yang diajukan oleh guru.
Langkah-langkah pembelajaran tipe think pair share
1.      Guru menyampaikan inti materi.
2.      Teman berdiskusi dengan teman sebelahnya tentang materi /permasalahan yang disampaikan guru.
3.      Guru memimpin Pleno dan tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya.
4.      Atas dasar hasil diskusi, guru mengarahkan pembicaraan pada materi/ permasalahan yang belum diungkapkan siswa.
5.      Kesimpulan.

          d.   Teams-Games-Tournaments (TGT)
Pada model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournaments (TGT) guru menyajikan materi, kemudian siswa belajar bersama/berkelompok.
Langkah-langkah pembelajaran teams-games-tournaments (TGT) yaitu:
1.      Penyajian materi oleh guru.
2.      Membentuk kelompok 4/5 mendalami materi.
3.      Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan pada kartu yang bernomor. Siswa yang menjawab benar akan mendapat skor dan dikumpul untuk turnamen mingguan.
4.       
5.      Turnamen dilakukan setiap minggu/unit.
6.      Guru mengelompokkan siswa berdasarkan skor diperoleh.
f.Number Head Together (NHT)Kepala bernomor                                                       
Tipe model pembelajaran ini dikembangkan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam mengemukakan pendapat mengenai materi pelajaran dan memeriksa pemahaman siswa.
Langkah-langkah pembelajaran ini meliputi:
1.      Siswa membentuk kelompok 4/5 dan diberi nomor.
2.      Guru memberi tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3.      Kelompok mendiskusikan jawaban dan memastikan setiap anggota kelompok mengerjakan jawabannya.
4.      Guru memanggil nomor dari setiap tim untuk melaporkan hasil diskusinya.
5.      Murid akan menulis jawaban pertanyaan.
6.      Tanggapan dari siswa lain, kemudianguru menunjuk nomor yang lain.
7.      Kesimpulan.
BAB IV
MEDIA PEMBELAJARAN
A.  Pengertian media Pembelajaran
Ditinjau dari pengertian komunikasi maka proses pembelajaran sebenarnya juga proses komunikasi. Dalam proses pembelajaran juga mengandung 5 unsur komunikasi yaitu: Guru/ pembelajar (komunikator), bahan pembelajaran (isi pesan), alat untuk menyampaikan bahan pelajaran (media), siswa/ pembelajar (komunikan), efek (tujuan pembelajaran). Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.Contoh media pembelajaran antara lain gambar bagan, model, film, media, video, komputer, dan sebagainya.
B.  Posisi  Media Pembelajaran
Berdasarkan wawasan bahwa proses pembelajaran adalah proses komunikasi demikian pula bahwa proses pembelajaran adalah suatu sistem, maka posisi media pembelajaran adalah sebagai komponen sistem pembelajaran. Tanpa media,
komunikasi tidak akan terjadi, dan demikian pula tanpa media pembelajaran proses pembelajaran, juga tidak akan berlangsung. Media pembelajaran adalah komponen integral dari sistem pembelajaran.
C.Fungsi Media Pembelajaran                 
Ditinjau dari proses pembelajaran sebagai proses komunikasi, maka fungsi media adalah sebagai pembawa informasi dari sumber (guru) ke penerima (siswa). Sedangkan metode adalah prosedur untuk membantu siswa dalam menerima dan mengolah informasi guna mencapai tujuan pembelajaran.
Fungsi media pembelajaran dapat diperjelas dengan bagan berikut:
GURU
SISWA
MEDIA
PESAN
METODE
 






Ditinjau dari proses pembelajaran sebagai kegiatan interaksi antara siswa dan lingkungannya, maka fungsi media dapat diketahui berdasarkan adanya kelebihan media dan hambatan komunikasi yang mungkin timbul dalam proses pembelajaran sebagai berikut:
             Kelebihan Kemampuan Media (S. Gerlach dan P. Ely) yaitu:
1.          kemampuan fiksatif, artinya memiliki kemampuan untuk menangkap, menyimpan dan kemudian menampilkan kembali suatu objek atau kejadian. Dengan kemampuan ini suatu objek atau kejadian dapat digambar, direkam, kemudian disimpan dan pada saat diperlukan dapat ditunjukkan kembali seperti kejadian aslinya.
2.          Kemampuan manipulatif, artinya medi dapat menampilkan kembali obyek atau kejadian dengan berbagai macam perubahan (manipulasi) sesuai keperluan, misalnya dirubah ukurannya, kecepatannya, warnanya, serta dapat juga diulang-ulang penyajiannya.
3.          Kemampuan Distributif, artinya media mampu menjangkau audien yang besar jumlahnya dalam satu kali penyajian secara serempak. Misalnya siaran TV atau Radio.

Hambatan Komunikasi Dalam Proses Pembelajaran
1.      verbalisme, artinya siswa dapat menyebutkan kata tetapi tidak mengetahui artinya. Hal ini terjadi karena biasanya guru mengajar hanya dengan memberi penjelasan secara lisan (ceramah), siswa cenderung hanya menirukan apa yang dikatakan guru.
2.      Salah Tafsir, artinya dengan istilah atau kata yang sama diartikan berbeda oleh siswa. Hal ini terjadi karena biasanya guru hanya menjelaskan secara lisan dengan tanpa menggunakan media pembelajaran yang lain misalnya gambar, bagan, model dan sebagainya.
3.      Perhatian tidak terpusat, hal ini dapat terjadi karena beberapa hal antara lain; karena gangguan fisik (siswa sakit), ada hal lain yang lebih menarik perhatian siswa daripada pelajaran, siswa melamun, cara mengajar guru membosankan, cara menyajikan bahan pelajaran tanpa variasi (monoton), kurang adanya pengawasan dan bimbingan guru.
4.      Tidak terjadi pembentukan tanggapan atau pemahaman yang utuh dan berarti, kurang memiliki kebermaknaan logis dan psikologis. Apa yang diamati atau dilihat, dialami atau dilihat, dialami secar terpisah. Tidak terjadi proses berfikir yang logis mulai dari kesadaran hingga timbunya konsep.
Berdasarkan kelebihan atau keistimewaan yang dimiliki media serta terjadinya hambatan komunikasi dalam proses pembelajaran antara lain; menghindari terjadinya verbalisme, membangkitkan minat/motivasi, menarik perhatian siswa, mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan ukuran, mengaktifkan siswa, mengefektifkan pemberian rangsangan untuk belajar.
Secara rinci fungsi media dalam proses pembelajaran antara lain memungkinkan siswa:
1.      menyaksikan benda yang ada atau peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Dengan perantaraan gambar, potret, slide, film, video, atau media yang lain siswa dapat memperoleh gambar yang nyata tentang benda/peristiwa bersejarah.
2.      Mengamati benda/peristiwa yang sukar dikunjungi, baik karena jarak jauh, berbahaya atau terlarang. Misalnya video tentang kehidupan harimau di hutan, keadaan dan kesibukan dipusat reaktor nuklir dan sebaginya memperoleh gambaran yang jelas tentang benda/ hal-hal yang sukar diamati secara langsung karena ukurannya yang tidak memuingkinkan, baik karena terlalu besar atau terlalu kecil. Misalnya dengan perantaraan maket siswa dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang bendungan dan komplek pembangkit listrik, dengan slide atau film siswa memperoleh gambaran tentang bakteri, amoeba dan sebagainya.
3.      Mendengar suara yang sukar ditangkap dengan telinga secara langsung. Misalnya merekam suara denyut jantung dan sebagainya.
4.      Mengamati dengan teliti binatang-binatang yang sukar diamati secara langsung karena sukar ditangkap. Dengan bantuan gambar, potret, slide, film atau video siswa dapat mengamati berbagai macam serangga, burung hantu, kelelawar dan sebagainya.
5.      Mengamati peristiwa-peristiwa yang jarang terjadi atau yang berbahaya didekati. Dengan slide, film atau video dapat mengamati pelangi, gunung meletus, pertempuran dan sebagainya.
6.      Mengamati dengan jelas benda-benda yang mudah rusak/sukar diawetkan. Dengan menggunakan model/benda tiruan siswa dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang organ-organ tubuh manusia seperti jantung, paru-paru, alat pencernaan dan sebagainya.
7.      Dengan mudah memperbandingkan sesuatu. Dengan bantuan gambar, model atau foto siswa dapat dengan mudah memperbandingkan dua benda yang berbeda sifat, ukuran, warna dan sebagainya.
8.      Dapat melihat secara cepat suatu proses yang berlangsung secara lambat. Dengan video proses perkembangan katak dari telur sampai menjadi katak dapat diamati hanya dalam waktu beberapa menit. Bunga dari kuncup sampai mekar yang berlangsung beberapa hari, dengan bantuan film yang diamati hanya dalam beberapa detik.
9.      Dapat melihat secara lambat gerakan-gerakan yang berlangsung secara cepat. Dengan bantuan film atau video siswa dapat mengamati dengan jelas gaya lompat tinggi, teknik loncat indah, yang disajikan secara lambat atau pada saat tertentu dihentikan.
10.  Mengamati gerakan-gerakan mesin/alat yang suklar diamati secara langsung. Dengan film atau video dapat dengan mudah siswa mengamati jalannya mesin 4 tak, 2 tak dan sebagainya.
11.  Melihat bagian-bagian yang tersembunyi dari suatu alat. Dengan diagram, bagan, model, siswa dapat mengamati bagian-bagian mesin yang sukar diamati secar langsung.
12.  Melihat ringkasan suatu rangkaian pengamatan yang panjang/lama. Setelah siswa melihat proses penggilingan tebu di pabrik gula, kemudian dapat mengamati secara ringkas proses penggilingan tebu yang disajikan dengan menggunakan film atau video (memantapkan hasil pengamatan).
13.  Dapat menjangkau audien yang besar jumlahnya dan mengamati suatu obyek secara serempak. Dengan siaran radio atau televisi ratusan bahkan ribuan mahasiswa dapat mengikuti kuliah yang disajikan seorang profesor dalam waktu yang sama.
14.  Dapat belajar sesuai dengan kemampuan, minat dan temponya masing-masing. Dengan modul atau pengajran berprogram siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan, kesempatan dan kecepatan masing-masing.
D.  Jenis Media Pembelajaran
Ada 3 jenis media pembelajaran yang perlu dipahami oleh para guru, yaitu: media visual, media audio dan media audiovisual. Dari masing-masing jenis media tersebut terdapat berbagai bentuk media yang dapat dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah dasar.
1.      Media visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indra penglihatan terdiri atas media yang dapat diproyeksikan (projected visual) dan media yang tidak dapat diproyekskan (non projected visual).
2.      Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan para siswa untuk mempelajari bahan ajar dan sejenisnya, seperti program kaset suara (audio cassette), CD audio dan program radio.
3.      Media audiovisual adalah kombinasi audio dan visual atau biasa disebut media pandang dengar.
E.  Pemilihan, Penggunaan dan Perawatan Media Pembelajaran
Setiap media memiliki karakteristik (kelebihan dan keterbatasan), oleh karena itu tidak ada media yang dapat digunakan untuk semua situasi atau tujuan. Media mana yang akan digunakan tergantung kepada kompetensi/tujuan yang ingin dicapai, sifat bahan ajar, ketersediaan media tersebut dan kemampuan guru dalam menggunakannya.
Media pembelajaran sederhana adalah jenis-jenis media pembelajaran yang relatif muda dibuat, bahannya mudah diperoleh, mudah digunakan, serta harganya lebih murah.Namun demikian, sederhana tidaknya suatu media tersebut sebenarnya tergantung pada kondisi suatu sekolah.
Pemilihan media pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh guru untuk menentukan jenis media mana yang lebih tepat digunakan dan sesuai dengan tujuan pembelajaran, sifat materi yang akan disampaikan, strategi yang digunakan, serta evaluasinya. Adanya pemilihan media ini disebabkan sangat banyak dan bervariasinya jenis media dengan karakteristik yang berbeda-beda.
Penggunaan media pembelajaran sederhana perlu memperhatikan tujuan yang ingin dicapai, sifat dari bahan ajar, karakteristik sasaran belajar (siswa), dan kondisi tempat/ruangan. Yang menjadi pertimbangan antara lain: kesederhanaan, menarik perhatian, adanya penonjolan/penekanan (misalnya dengan warna), direncanakan dengan baik serta memungkinkan siswa lebih aktif belajar.
Untuk pemeliharaan media pembelajaran agar awet dan dapat digunakan lebih lama perlu diupayakan berbagai cara, baik secara teknis misalnya dengan memberi bingkai pada media grafis (mounting frame), maupun yang lebih ideal, yaitu menyediakan tempat atau ruangan yang secara khusus diset untuk penyimpanan berbagai jenis media pembelajaran.


BAB V
PERANGKAT PEMBELAJARAN
                Perangkat pembelajaran antara lain adalah:
1.      silabus pembelajaran,
2.       rencana pelaksanaan pembelajaran,
3.      Materi pembelajaran,
4.      lembar kerja siswa (LKS), kunci/model jawaban LKS,
5.      dan instrumen penilaian.

A.  Silabus Pembelajaran
               
                                                               Komponen silabus
 A. Indikator 
Dianjurkan memisahkan
Kognitif;                 
                Kognitif Proses
                Contoh:  a. menjelaskan pengertian perubahan sosial budaya.
b. menyebutkan bentuk-bentuk perubahan sosial budaya.
c. menguraikan faktor penyebab terjadinya perubahan.
                  Kognitif Produk                                             
Contoh: menjelaskan dengan contoh penyebab perubahan sosial budaya.             
                Afektif
                Karakter
                Cont
oh: menghargai pendapat teman di dalammelakukan diskusi.
                Sosial
                Contoh: saling menghargai pendapat di dalamberdiskusi.
                Psikomotorik
Contoh: terampil memilah-milah bentuk perubahan kecil, besar, perubahan yang       direncanakan dan tidak direncanakan, perubahan lambat dancepat yang terjadi di lingkungan  sekitarnya.
B. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran menunjukkan aktivitas siswa (bisa juga ditambah aktivitas guru) dalam rangka mencapai kompetensi yang sudah dirumuskan.                                           
             C. Alokasi Waktu
                Dinyatakan dalam (X * 35).
D. Penilaian
Tuliskan jenis dan berikan satu contoh.                                             
E. Sumber Belajar.
Perlu dijelaskan buku-buku  yang digunakan, media/alat, dan barang-barang lain yang   relevan.
Format Silabus Pembelajaran



…………
















B.  FORMAT RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN  (RPP).
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan pendidikan          :
Mata Pelajaran                :
Kelas/Semester               :
alokasiWaktu                  :
A.     Standar Kompetensi:
(disalin sesuai dengan silabus)
B.      Kompetensi Dasar:
(disalin dari silabus)
C.      Indikator
(disalin dari silabus)
D.     Tujuan Pembelajaran
Diturunkan dari rumusan indikator.Rumusan dianjurkan menggunakan pola “ABCD”.
Contoh: “Siswa (A) dapat mengidentifikasi barang-barang produksi Indonesia yang diekspor ke luar negeri (B) dengan membaca artikel-artikel yang telah disiapkan oleh guru (C) denganbenar (D)”.
E.      Materi Pembelajaran
Rumusan cukup ringkas, rumusan lengkap dapat diberikan dalam bahan ajar siswa yang terpisah.
F.       Model dan Metode Pembelajaran
Contoh:
Model Pembelajaran: Pembelajaran Kooperatif.
Metode Pembelajaran:                                  
1.      Kerja kelompok
2.      Tanya jawab
3.      Ceramah
4.      Diskusi.
G.     KegiatanPembelajaran
1.      Kegiatan Awal
a.      Apersepsi
b.      Orientasi
c.       Motivasi
2.      Kegiatan Inti
a.      Eksplorasi
b.      Elaborasi
c.       Konfirmasi
3.      Kegiatan Akhir
a.      Merangkum
b.      Menilai
c.       Merefleksi
Catatan: Utamakan menuliskan kegiatan siswa. Bisa dilengkapi dengan kegiatan guru.Jangan sebaliknya kegiatan guru yang dituliskan, tetapi kegiatan siswa tidakada.
H.     Penilaian
Perlu dijelaskan secara singkat, instrumen selengkapnya dilampirkan.
I.        Sumber Belajar dan Media
Tuliskan sumber belajar dan media pembelajaran yang digunakan.




C.  Lembar Kerja Siswa
1.      lembar yang memfasilitasi aktivitas belajar siswa yang berisi petunjuk teknis dan format kerja siswa.
2.      Format menyesuaikan dengan aktivitas siswa.
3.      Perlu dilengkapi dengan kunci jawaban atau jawaban model.
Catatan: Lembar Kerja Siswa tidak digunakan untuk menilai siswa, tetapi untuk membantu siswa belajar. Bdakan LKS dengan instrument penilaian.

D.  Instrumen Penilaian                                                                                     
1.  Penilaian berangkat dari rumusan indikator.
2.  Semua instrumen penilaian yang akan digunakan ditulis secara lengkap.
3.  Perlu diberi contoh jawaban model.














PENYUSUNANRENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

1.      Pengertian Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Didalam literatur dijumpai sejumlah konsep (istilah) yang berkaitan dengan perancangan pembelajaran. Sebagian diantara konsep (istilah-istilah) tersebut, seperti perancangan pembelajaran, perencanaan pembelajaran, pengembangan program pembelajaran, pengembangan sistem pembelajaran, yang menunjuk kepada “aktivitas (kegiatan)”, sementara konsep (istilah-istilah) yang lain, seperti rancangan pembelajaran, rencana pembelajaran, program pembelajaran, persiapan guru, persiapan mengajar, satuan pelajaran, program caturwulan/semester, sillabi, handout, kontrak pembelajaran, paket belajar dan modul, menunjuk kepada hasil (kegiatan) yang disebutkan di atas.
Secara harfiah, konsep penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran menunjuk kepada aktivitas merancang dan mempersiapkan segala sesuatu berkenaan dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Dalam hal itu, ditinjau dari subtansinya, konsep Penyusunan Pelaksanaan Pembelajaran diartikan sebagai “aktivitas mengembangkan dan mengorganisir komponen-komponen sistem pembelajaran secara sistemik dan sistematik”. Pengertian Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dimaksud, mengandung tiga unsur pokok, yaitu:
1.      Aktivitas mengembangkan dan mengorganisir komponen sistem pembelajaran. Aktivitas ini meliputi aktivitas mengembangkan indikator dan merumuskan tujuan pembelajaran mengembangkan prosedur evaluasi, mengembangkan mater/bahan pembelajaran, memilih metode dan menstrukturkan kegiatan pembelajaran, serta memilih dan mengembangkan media/sumber/alat/bahan yang diperlukan dalam pembelajaran;
2.      Secara sistematik mengandung makna bahwa di dalam mengembangkan dan mengorganisir komponen-komponen sistem pembelajaran tersebut bertumpu pada kerangka berfikir yang menghendaki terjadinya interaksi dan kaitan fungsional antar komponen dari sistem pembelajaran tersebut. Refleksi dari kerangka berfikir sistem tersebut, tergambar melalui rangkaian pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:
a.      Apakah tujuan yang hendak dicapai oleh murid dalam kegiatan belajar?
b.      Bahan pelajaran apakah yang sesuai digunakan untuk menyajikan bahan pelajaran dalam mencapai tujuan?
c.       Metode apakah yang sesuai digunakan untuk menyajikan bahan pelajaran dalam mencapai tujuan?
d.      Media/sumber/alat/bahan apakah yang diperlukan guna menunjang cara penyajian bahan pelajaran untuk mencapai tujuan?
e.      Jenis/teknik penilaian apakah yang sesuai digunakan untuk mengukur pencapaian indikator/tujuan pembelajaran?
3.      Secara sistematik mengandung makna bahwa di dalam upaya mengembangkan dan mengorganisir komponen-komponen sistem pembelajaran tersebut harus dilakukan sesuai prosedur atau dengan mengikuti urutan langkah-langkah tertentu.

Aktivitas mengembangkan dan mengorganisir komponen-komponen sistem pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas diarahkan kepada “terhasilkannya” suatu rencana pelaksanaan pembelajaran, mulai dari yang sifatnya umum, seperti program caturwulan/semester, sillabi, dsb, atau yang sifatnya lebih khusus, seperti hand-out dan satuan pelajaran sampai kepada yang sifatnya sangat khusus/terstruktur, seperti modul, paket belajar, dan pembelajaran berprogram.

2.      Langkah-langkah Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Dengan menggunakan konsep pendekatan sistem sebagai acuan, sejumlah ahli telah mencoba menyusun dan mengembangkan “langkah-langkah pengembangan sistem pembelajaran (langkah-langkah perancangan pembelajaran)”. Usaha memperjelas proses pengembangan sistem pembelajaran tersebut tidak hanya terbatas pada penjabaran langkah-langkahnya tetapi sekaligus dengan membuatkan model-model pengembangan sistem instruksional, yaitu dalam bentuk “diagram yang menggambarkan secara visual komponen-komponen sistem pembelajaran serta langkah-langkah pengembangan dari komponen-komponen tersebut secara sistemik dan sistematik.
Kita mengenal puluhan model pengembangan sistem pembelajaran, diantaranya ialah model Glaser, model Gerlach & Ely, model J.E. Kemp, model Van Gelder, model Amstrong, model B. Banathy, model Russel & Hunter, model IDI (Instructional Development Institute), dan model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional). Semua model pengembangan sistem pembelajaran tersebut berbeda satu sama lain dalam pengungkapan langkah-langkah kecilnya, tetapi semua model selalu mengandung langkah-langkah:
-          Perumusan masalah; dan penetapan tujuan,
-          Pengembangan strategi pemecahan masalah dan pencapaian tujuan; dan
-          Penilaian sebagai dasar perbaikan.
Kecuali itu, setiap model menekankan prinsip keterpaduan yaitu hubungan saling menunjang dan saling menguatkan antara masing-masing langkah untuk menimbulkan efek sinergistik (keterpaduan).
Dari berbagai model pengembangan sistem pembelajaran yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa pada umumnya model Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran terdiri atas komponen-komponen:
1.      Topik satuan bahasan yang akan diajarkan;
2.      Situasi permulaan (entering behavior);
3.      Tujuan pembelajaran;
4.      Evaluasi;
5.      Materi (bahan) pembelajaran;
6.      Kegiatan pembelajaran;
7.      Media pembelajaran.

3.      Penyusunan/Penulisan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Setelah setiap komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran disiapkan, keseluruhan komponen itu dihimpun dalam satu format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Format persiapan mengajar tersebut bervariasi tergantung pada Model Disaiu Instruksional yang dipilih, dan atau format tertentu yang secara resmi dipakai pada suatu satuan pendidikan. Meskipun format itu bervariasi, namun prinsip penyusunannya sama yakni semua komponen telah dirancang sesuai dengan kriteria untuk komponen yang bersangkutan, serta semua komponen saling terkait secara fungsional untuk mencapai tujuan pembelajaran/indikator/kompetensi yang telah ditetapkan.

Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Sekolah                            :
Kelas                                :
Mata Pelajaran               :
Alokasi Waktu                 :

A.      Standar Kompetensi        :
B.      Kompetensi Dasar           :
C.      Indikator                          :
D.     Tujuan Pembelajaran     :
E.      Materi Pembelajaran     :
F.       Metode Pembelajaran    :
G.     Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran  :
1.      Pertemuan I :  -    Kegiatan Awal          :
-          Kegiatan Inti            :
-          Kegiatan Akhir         :
2.      Pertemuan II: dst.
H.     Media/Sumber/Alat/Bahan Pembelajaran    :
I.        Penilaian:





DAFTAR PUSTAKA

Arief S. Sadiman. 1990. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya, Jakarta: Pustekom Dikbud dan CV Rajawali.

Mappasono S. 2006. Perencanaan Pengajaran. Makassar FIP UNM.

Muktiyani. 2003. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw pada Sekolah Menengah UmumSidoarjo. Makalah PPS Unesa Surabaya.
Mulyani Sumantri dan Johar Permana. 1998-1999. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Dirjen Dikti Depdikbud.
Sagala, Syaiful. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: CV, Alfabeta.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana Prenada Media.
T. Raka Joni. 1984. Strategi Belajar-Mengajar, Suatu Tinjauan Pengantar, Jakarta:










P2LPTK Depdikbud.



DAFTAR ISI

BAB I.    STRATEGI PEMBELAJARAN  HAL.                                                               1
BAB II.  METODE PEMBELAJARAN    HAL.                                                                9
BAB III. PENDEKATAN DAN MODEL PEMBELAJARAN    HAL.                                 53
BAB IV. MEDIA PEMBELAJARAN  HAL.                                                                     64
BAB V.  PERANGKAT PEMBELAJARAN  HAL.                                                           71


DAFTAR PUSTAKA